"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Tabarruk

Oleh: admin 

Sering kita mendengar orang melakukan tabarruk karena suatu sebab. Ada yang mengkhususkannya datang ke tempat-tempat keramat yang diyakini mampu mendatangkan barokah dan menjamin keselamatan dan kebahagiaan hidup mereka. Tak jarang mereka ini begitu khusyu di hadapan makam orang-orang shaleh atau para wali atau benda-benda pusaka para wali yang menjadi simbol kebaikan menurut mereka. 

Namun seiring dengan kecintaan mereka terhadap amalan seperti itu mereka melupakan hakikat penciptaan suatu musibah ataupun kesenangan yang semata-mata datang dari Allah ta’ala sebagai ujian bagi hamba-Nya. Yang lebih ironis di antara mereka ini ada yang begitu  mengagungkan  pertolongan dari  perbuatan tabarruknya itu.

Makna tabarruk adalah mencari berkah, sementara mencari berkah tidak lepas dari dua hal:

Pertama; Tabarruk yang sesuai dengan syariat dan diketahui secara pasti seperti al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah”. [Shad:29].

Dengan al-Qur’an Allah ta’ala telah menyelamatkan banyak manusia dari syirik. Diantara barokah al-Qur’an adalah dengan kita membacanya satu huruf mendatangkan sepuluh kebaikan.

Kedua; Tabarruk dengan inderawi dan diketahui secara jelas seperti pengajaran, doa dan sejenisnya. Seseorang bertabarruk dengan ilmu dan doanya kepada kebaikan. Hal ini menjadi berkah karena dengan ilmu dan doa itu kita memperoleh banyak kebaikan. [al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit-Tauhid, Syaikh Ustaimin]

Adapun tabarruk kepada selain yang dijelaskan diatas adalah terlarang karena mencari berkah tidak diperkenankan kecuali terhadap apa yang tertulis dalam syariat Allah ta’ala di dalam al-Qur’an dan as-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Amirul Mukmini Umar radhiyallahu’anhu ketika melihat banyak orang yang mendatangi pohon yang disana diadakan Bai’at Ar-Ridwan, maka ia memerintahkan untuk menebang pohon tersebut. Jika hal tersebut saja terlarang lalu bagaimana dengan sebagian umat saat ini yang mendatangi makam-makam orang shalih untuk meminta barakahnya. Na’udzubillah!!

Kalau kita perhatikan bahwa pohon tersebut sebenarnya memiliki bekas-bekas diadakannya Bai’at Ridwan dan ketika itu masih jelas namun Umar radhiyallahu’anhu lebih berhati-hati dan menjaga ketauhidan umat saat itu diutamakan. Ini bukti bahwa bahaya syirik sangat tidak tampak…..sekali lagi bagai semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada malam hari.

Ketika beliau menghadap Hajar Aswad, beliau mengatakan:

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak mendatangkan manfaat dan mudhorot. Sekiranya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu. [HR Ahmad dengan sanad shahih]

Beliau radhiyallahu’anhu mencium dan memeluk Hajar Aswad bukan karena mengharapkan berkahnya, melainkan karena hal itu termasuk dalam ibadah mahdhoh serta berittiba kepada Rasulullah SAW.

 Wallahu A’lam  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: