"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: admin

Diterjemahkan dari Kitab Iqtidho Shirotul Mustaqim Mukholafatu Ashaabil Jahiim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harani rahimahullah (w. 728H),  cet. Dar al-Hadits Cairo

Beliau rahimahullah berkata: 

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah melarang kita menjadikan kuburan sebagai masjid dan sholat di dekatnya. Demikian pula menjadikannya sebagai tempat-tempat peringatan. Allah ta’ala telah menyeru agar tidak seorangpun menjadikan kuburan  beliau  sebagai  berhala  yang disembah  (وثنا يعبد)

Sungguh bahwasanya ada yang telah menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai tempat peringatan atau perayaan yaitu dengan kebiasaan mendatanginya dalam rangka beribadah di dekatnya atau selain dari tujuan tersebut.

Bahkan sangat jelas telah ada larangan khusus untuk sholat di dekatnya atau menghadapnya, demikian sebaliknya terdapat perintah untuk mengucapkan salam atas penghuni kubur dan perintah menyampaikan doa kepada mereka. (iqtidho hal. 321)

Untuk itu telah kami sebutkan apa saja yang terkandung di dalam doa seseorang untuk dirinya di dekat kuburan baik golongan yang mempunyai maksud karena sekedar berdoa atau  bermaksud berdoa dengan mengandung sesuatu yang implisit atau sesuatu yang menyertainya.

Pendapat yang paling tepat menyebutkan keseluruhan ibadah: Pendapat tentang masalah ini cukup banyak seperti halnya pendapat tentang doa, maka dalam hal ini tidak ada yang menyebutkan bahwa berzikir kepada Allah di tempat-tempat tersebut atau  melakukan shaum, menyembelih sembelihan di dekatnya memiliki keutamaan dari pada di tempat selainnya.

Beliau rahimahullah selanjutnya berkata:

Aku tidak mengetahui seorangpun diantara ulama kaum muslimin yang berkata: “Sesungguhnya berzikir, melakukan shaum atau membaca al-Qur’an di tempat seperti itu lebih utama dari pada melakukannya di tempat yang lainnya“.

Adapun apa yang disebutkan sebagian orang yang mengatakan bahwa orang yang meninggal memperoleh manfaat dengan mendengar bacaan al-Qur’an sebagai pengganti selama bila dibacakan di tempat yang lain. Maka apabila hal itu memiliki maksud bahwa perbuatan tersebut memberikan hasil berupa pahala kepada orang yang meninggal, secara khusus, tidak seorangpun dari ahlul ilmi yang dikenal (ma’ruf) yang berpendapat seperti itu. Bahkan terdapat dua pendapat dalam hal ini:

Pendapat pertama:

Bahwa pahala ibadah badaniyah seperti sholat, membaca al-Qur’an atau selain keduanya akan sampai kepada orang yang telah meninggal. Sebagaimana sampainya pahala ibadah maaliyah berdasarkan ijma’ ulama. Pendapat ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya dan juga sebagian pendapat dari sahabat Imam as- Syafi’i dan Imam Malik, dan pendapat ini adalah benar berdasarkan dalil-dalil yang cukup banyak yang telah kami sebutkan mengenai hal tersebut di tempat lain.

Pendapat Kedua:

Bahwa pahala ibadah badaniyah bagaimanapun tidak akan sampai kepada orang yang meninggal. Ini pendapat yang cukup masyhur dikalangan sahabat Imam as-Syafi’i dan Imam Malik. Dan tidak seorangpun dari mereka yang mengkhususkan secara benar atau tidak adanya tempat-tempat tersebut.

Adapun pendapat bahwa orang yang meninggal dapat mendengar suara bacaan al-Qur’an dan selainnya, maka hal ini benar. Akan tetapi orang yang meninggal tidak selamanya memperoleh pahala atas amal perbuatannya setelah meninggal seperti mendengar dan yang lainnya.

Dan sesungguhnya orang yang meninggal itu hanya akan memperoleh nikmat atau azab disebabkan oleh perbuatannya  pada masa hidupnya atau oleh apa yang ia tinggalkan atau karena ada yang beramal dengan apa yang ia tinggalkan. Sebagaimana perselisihan tentang diazabnya orang yang meninggal disebabkan oleh ratapan terhadapnya, dan diperolehnya nikmat disebabkan oleh hidayah kepadanya. Demikian pula ia memperoleh nikmat karena doa yang ditujukan kepadanya. Dan ini menunjukkan ibadah maaliyah menurut ijma’. Demikian yang disebutkan oleh segolongan dari sahabat Imam Ahmad dan yang lainnya. Mereka menukilnya dari Imam Ahmad dan menyebutkan di dalamnya berdasarkan atsar sahabat bahwa orang yang meninggal akan merasakan pedih disebabkan oleh perbuatan maksiat. Dikatakannya pula bahwa ia akan memperoleh nikmat disebabkan apa yang didengarnya seperti bacaan al-Qur’an dan zikir kepada Allah ta’ala. 

Dan ini seandainya benar, maka tidak wajib menganggap baik membaca al-Qur’an di dekatnya. Karena sesungguhnya jika hal tersebut merupakan sesuatu yang disyariatkan niscaya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam akan menjelaskan kepada umatnya. (iqtidho hal. 322)

Meskipun jika hal ini merupakan jenis kebaikan, namun di dalamnya terdapat keburukan yang lebih banyak, sebagaimana sholat di dekatnya. Sedangkan orang yang meninggal mendapatkan nikmat dari doa yang ditujukan kepadanya dan permohonan ampun untuknya serta shodaqoh atas namanya serta ibadah lainnya yang dengannya dapat mendatangkan manfaat yang besar, maka ini disyariatkan dan di dalamnya tidak terdapat keburukan.

Maka dari itu tidak seorangpun dari ulama yang mengatakan karena sebab itu, menyukai untuk menyampaikan bacaan al-Qur’an di dekat kuburan dengan terus menerus. Karena sungguh telah diketahui tanpa paksaan dari dinul islam bahwa yang demikian tidak ada syariat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Akan tetapi para ulama berselisih tentang bacaan al-Qur’an di dekat kuburan, apakah hal tersebut dibenci (makruuhah) atau tidak? dan masalah ini cukup masyhur yang di dalamnya terdapat tiga buah riwayat dari Imam Ahmad:

Pertama; Bahwa hal tersebut tidak masalah, pendapat ini yang dipilih oleh al-Khalal dan sahabatnya serta kebanyakan ulama muta’akhirin dari golongan mereka. Mereka berkata riwayat ini adalah yang terakhir dari Imam Ahmad dan pendapat segolongan dari sahabat Abu Hanifah.  Mereka bersandar berdasarkan apa yang dinukil dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia (ibnu Umar) berwasiat agar dibacakan di kuburannya pada saat pemakamannya dengan membuka surat al-Baqoroh dan menutupnya dengan surat tersebut. Dan dinukil pula dari sebagian sahabat Muhajirin tentang bacaan surat al-Baqoroh tersebut.

Kedua; Bahwa hal tersebut dibenci (di-makruhkan) meskipun terjadi perselisihan di antara mereka yaitu apakah dibacakan surat al-Fatihah dalam sholat jenazah bila sholat tersebut dilakukan di tempat pemakaman, maka dalam hal ini ada dua buah riwayat dari Imam Ahmad. Riwayat ini paling banyak diriwayatkan darinya oleh sahabat beliau rahimahullah. Dan telah ada sebelumnya pendapat tentang riwayat tersebut dari sahabat beliau yang mengikutinya seperti Abdul Wahhab Al-Waroq dan Abu Bakr Al-Maruz dan yang lainnya. Ini adalah madzhab jumhur salaf seperti Abu Hanifah dan Imam Malik serta Hasyim bin Basyir dan selain mereka. Sedangkan beliau tidak menyebutkan dari Imam as-Syafi’i sendiri tentang perkataan dalam masalah ini. Karena menurut Imam as-Syafi’i ini adalah bid’ah. Imam Malik berkata: “Aku tidak mengetahui seorangpun yang berpendapat demikian, maka ketahuilah bahwa para sahabat dan tabiin tidak ada yang melakukannya”.

Ketiga; Bahwa bacaan al-Qur’an di dekat kuburan pada saat pemakaman tidak ada masalah. Sebagaimana dinukil dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dan sebagian dari sahabat Muhajirin. Adapun pembacaan al-Qur’an setelah proses pemakaman maka hal ini adalah dibenci (makruhah), karena sama sekali tidak ada seorangpun dari generasi salaf yang menukil seperti ini. Dan riwayat ini lebih kuat di antara riwayat yang lain karena di dalamnya terdapat kesesuaian di antara dalil-dalilnya dan kalangan yang membenci bacaan al-Qur’an di dekat kuburan, sebagian dari merekapun membenci perbuatan tersebut (qiroat setelah pemakaman pent-). Sedangkan jika tidak bermaksud membaca al-Qur’an di tempat itu sebagaimana tidak melakukan sholat di sana maka sesungguhnya Imam Ahmad melarang membaca al-Qur’an di dalam sholat jenazah di sana.

Telah diketahui bahwasanya membaca al-Qur’an di dalam sholat (jenazah) tersebut tidak memiliki maksud di dalamnya membaca al-Qur’an di dekat kuburan. Bersamaan dengan ini terdapat perbedaan di antara mereka ada yang melakukannya dengan mengandung maksud tertentu dan sesuatu yang menyertainya. Ada juga yang melakukannya karena kuburan dianggap sebagai perantara, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sedangkan menetapi (berwukuf) di suatu tempat yang dilakukan manusia dalam rangka membaca al-Qur’an di dekat kuburan mereka terdapat maksud-maksud di dalamnya: yaitu untuk menghafal al-Qur’an, dapat memberikan rizki kepada para penghafal al-Qur’an, dan sebagai alasan (motif)  yang mendorong mereka untuk menghafalnya, mempelajarinya dan menekuninya. Dan sesungguhnya ditetapkan bahwa qori tidaklah memperoleh balasan pahala atas bacaannya namun dengan caranya itu ia menjaga agama ini, sebagaimana kaum kafir dan orang-orang fajir menjaga dan bersungguh-sungguh dengan bacaan al-Qur’an.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang-orang fajir (jahat)”. (Muttafaqun’alaih dikeluarkan oleh al-Bukhari no. 3062 dan Muslim dalam Kitabul Iman no. 178)

Dan penjelasan tentang menetap di suatu tempat (berwukuf) beserta syarat-syaratnya telah diuraikan secara panjang lebar dan telah disebutkan di tempat lain. Dan disini bukan maksud untuk menjelaskannya.

Adapun berzikir kepada Allah di sana tidak di-makruh-kan, akan tetapi memaksudkan tempat berzikir di sana adalah bid’ah makruhah.  Karena sesungguhnya hal tersebut merupakan salah satu di antara menjadikannya sebagai peringatan (perayaan). Demikian pula memaksudkannya dengan melakukan shiyam di dekatnya. Barangsiapa yang membolehkan bacaan al-Qur’an disana maka ia tidak membolehkan untuk menjadikannya peringatan (perayaan). Seperti menjadikannya waktu tertentu untuk membiasakan di dalamnya dengan bacaan al-Qur’an di sana atau berkumpul di dekatnya untuk membaca al-Qur’an dan sejenisnya. Sebagaimana diperbolehkannya berzikir dan berdo’a di sana tetapi tidak boleh menjadikannya peringatan (perayaan) karenanya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya.

Adapun menyembelih sembelihan di sana maka terdapat larangan secara mutlak, para sahabat kami menyebutkan hal itu. Ketika itu Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Tidak ada penyembelihan di dalam islam”. (Al-Albani di dalam Shahih Jami’ as-Shaghir no. 7411). Dalam riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud ada tambahan: berkata Abdul Razaq: “Bahwasanya dahulu mereka menyembelih sapi dan kambing di kuburan”.

Berkata Imam Ahmad di dalam riwayat Al-Maruz bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada penyembelihan di dalam islam”, Ketika itu apabila ada yang meninggal mereka berkurban dengan menyembelih hewan di atas kuburannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal demikian. Abu Abdillah (Imam Ahmad) memakruhkan memakan dagingnya.

Berkata sahabat-sahabat kami: “Tentang  makna hal  ini kebanyakan orang-orang pada masa kami tidak ada yang melakukannya dengan menyajikan makanan (roti) atau selainnya di dekat kuburan”. Karena hal ini termasuk jenis ibadah badaniyah atau amaliyah atau bisa terdiri dari kedua-duanya.(iqtidho hal. 324)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: