"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Ziarah Kubur dan Adabnya

Oleh: Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qorni 

Ibnu ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Suatu hari aku berjalan bersama Umar bin al-Khaththab. Ketika kami lewat di pekuburan Baqi’, ia mengambil tanganku dan menariknya masuk ke dalam pekuburan tersebut. Kemudian kami duduk di samping sebuah kuburan, dan tiba-tiba ia menangis sejadi-jadinya. Dengan heran aku berkata, “Mengapa engkau menangis seperti itu, wahai Umar?”. Ia menjawab, “Duhai kiranya alangkah enaknya jika aku tidak dilahirkan oleh ibuku. Duhai kiranya, alangkah enaknya jika aku menjadi pohon saja sehingga tidak ada pertanggungjawaban ini. Lupakah engkau dengan liang kubur ini, wahai Ibnu ‘Auf?”. Sungguh perkataan ‘Umar itu membuat aku pun menangis sepertinya. 

Hanya Allahlah penolong satu-satunya di dalam alam barzakh itu. Semoga Allah meneguhkan iman kita ketika berada di sana dan di akhirat kelak sebagaimana Dia telah meneguhkan orang-orang yang beriman serta senantiasa istiqomah kepada-Nya sehingga mereka tidak terhina di akhirat, tidak tergelincir di neraka ketika melewati jembatan Shirathal Mustaqim, dan tetap terilhami untuk membaca Lailaha Illallah ketika menghadapi fitnah alam barzakh. 

Adapun kewajiban kita terhadap orang-orang yang telah meninggal adalah menziarahi kibur mereka, membacakan salam kepada mereka, dan mendoakan kebaikan bagi mereka kepada Allah. Sebab, dengan semua itu Allah akan menerangi kubur mereka. Namun demikian, perlu diingat bahwa kita tidak butuh kepada seorangpun  di antara mereka. Sebab, mereka sudah berada di alam lain; tidak seorangpun di antara mereka yang memiliki kesanggupan sedikit pun untuk memberi manfaat, menghilangkan mudharat, mematikan, menghidupkan, maupun membangkitkan bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. 

Ziarah kubur yang benar (yang disyariatkan oleh Islam) adalah dengan mendatangi kubur itu lalu memberi salam kepada ahlinya serta mendoakan kebaikan baginya, kemudian merenungkan hari dikumpulkannya semua mahluk di hadapan Allah di Padang Mahsyar, mengingat-ingat hari dibentangkannya segala amal –baik amal baik maupun amal buruk- di pengadilan Allah dengan disaksikan oleh semua mahluk, melepaskan segala ketergantungan kepada apapun  selain Allah, dan mengurangi kecintaan kepada dunia yang dapat menyibukkannya dari mengabdi kepada Allah. Itupun hanya dilakukan oleh kaum laki-laki dari umat ini; kaum perempuan tidak disyariatkan melakukan ziarah kubur. 

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Pergilah kalian menziarahi kubur karena hal itu dapat mengingatkan kalian kepada akhirat”. (Muslim dalam Kitab al-Janaiz, bab Isti’ti’dzan an-Nabiyy li Ziyarati Quburi Ummihi, No.108/976 dan Ibnu Majah dalam Kitab al-Janaiz bab Ziayrati al-Qubur, No. 1569) 

Jadi maksud dari ziarah kubur tak lain adalah untuk mengingatkan diri kepada akhirat, bukan untuk ber-tawassul (berperantara) dengan ahli kubur sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang paganis yang bid’ah lagi musyrik di sebagian wilayah islam. Mereka pergi ke kubur-kubur tertentu –terkadang memang kuburan orang shaleh- lalu mereka ber-tawassul (berperantara) dengan penghuninya dalam beribadah kepada Allah serta mengambil berkah dari kubur itu. 

Barangsiapa yang melakukan perbuatan syirik ini, maka ia adalah termasuk orang yang gugur segala amalannya di dunia dan di akhirat selama ia tidak bertobat kepada Allah dan menarik kembali amalan sesat yang ia lakukan itu. 

Jika engkau bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian melakukan perbuatan syirik, berhala, dan jahiliyah ini?”, niscaya mereka menjawab, “Sesungguhnya kami tidak menyembah penghuni kubur ini melainkan hanya sekedar mengambil berkah darinya dan menjadikannya wasilah (perantara) antara kami dengan Allah dalam beribadah kepada-Nya”. 

Sungguh ini adalah logika orang-orang jahil, syirik, dan paganis. Tentang mereka Allah ta’ala berfirman: 

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar [39]:3) 

Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah”. (Imam Malik dalam Kitab al-Muwaththa’-nya bab Qashar ash-Shalati No. 85) 

Maksud dari dijadikan sebagai berhala yang disembah adalah dijadikan sebagai tempat ber-tawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengambil berkah darinya, dan diyakini akan dapat memberikan manfaat dan menghilangkan mudharat. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja seperti demikian keadaannya, konon lagi orang-orang lain yang takkan sampai martabatnya kepada martabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Allah ta’ala berfirman: 

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. (QS. az-Zumar [39]: 65-66). 

Maka dari itu, orang-orang yang berwasilah dengan kuburan siapapun, di negeri manapun, di zaman apapun, adalah orang-orang yang rusak binasa amalan-amalannya dan sesat lagi bathil perbuatannya. 

Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam akan mengakhiri hayatnya di dunia ini, yaitu saat beliau meregang nyawa menghadapi sakratul maut, beliau bersabda, “Lailaha Illallah, Sungguh bagi setiap kematian itu ada sakaratnya.” Setelah itu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur nab-nabi mereka sebagai masjid.” (Bukhari dalam Kitab al-Janaiz, bab Ma Jaa fi Qabri an-Nabiyy, No. 1390) 

Sungguh perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani ini telah merembet kepada sebagian umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka di banyak negeri Islam saat ini dapat engkau temukan orang Islam yang musyrik, yang menyekutukan Allah dengan cara mendekatkan dirinya kepada kuburan untuk mengambil berkah dari penghuninya dan meminta manfaat darinya atau mengharapkan tertolak dari mudharat kepadanya –sesuatu yang untuk dirinya saja (penghuni kubur)- ia tidak memiliki kesanggupan sedikitpun, apa lagi untuk orang lain. Mereka telah terjatuh pada tindakan ghuluw (berlebih-lebihan) seperti umat-umat terdahulu. Lebih parah lagi, para ulama setempat mendengar dan mengetahui betul perbuatan ini dilakukan, tapi mereka seperti tidak peduli dengannya. Na’udzu billah. 

Allah ta’ala akan memerangi siapapun yang menyembah selain-Nya sebagai Tuhan ataupun mengambil sesuatu  sebagai perantara antara dirinya dengan-Nya dalam mendatangkan manfaat ataupun menolak mudharat. 

Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya rasul-rasul adalah para penyalur hidayah dan penyampai risalah dari Allah kepada kita, bukan sebagai perantara antara kita dengan Allah dalam beribadah kepada-Nya.” 

Maka barangsiapa yang berperantara dengan orang yang telah meninggal dunia atau meminta berkah dan syafaat darinya di kuburannya, maka telah merugikah ia dan gugurlah amalan-amalannya selagi tidak bertobat kepada Allah. 

Sekali lagi, ziarah kubur yang benar (yang disyariatkan dalam islam) adalah mendatangi kubur itu dengan tujuan untuk mengingatkan diri kepada akhirat. Di samping itu, cara berziarah adalah dengan mendoakan ahli kubur yang diziarahi tersebut sebagaimana diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berziarah. 

Di antara adab-adab berziarah adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak duduk di atas kubur sebab perbuatan ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah sabdanya: “Janganlah sekali-kali kalian sengaja melaksanakan sholat di kuburan dan jangan pula sekali-kali kalian duduk di atasnya.” (Muslim dalam Kitab al-Janaiz, bab ash-Shalatu ‘ala al-Qubari, No. 98/972) 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sungguh jika aku duduk di atas bara api yang menyala-nyala sehingga terbakar seluruh pakaianku sampai ke sekujur badanku, itu adalah lebih baik bagiku ketimbang aku duduk di atas kuburan.” (Ibid, bab an-Nahyi ‘an al-Julusi ‘ala al-Qobri, No. 96/971) 

Kedua, tidak melaksanakan sholat di sana kecuali shalat jenazah terhadapnya. Sholat jenazah boleh dilakukan di kuburan jika si peziarah belum ada yang menyalatkan sebelumnya. Namun itu paling lambat satu bulan setelah wafatnya; lebih dari itu tidak diperbolehkan. 

Ketiga, tidak melangkahi kubur atau berjalan di atasnya.  

Kuburan yang tinggi bagaikan bangunan haruslah dirubuhkan dan didatarkan dengan tanah kecuali sedikit –setinggi sejengkal dari tanah- sebagai tanda bahwa itu adalah kuburan sehingga tidak dilecehkan orang. Sebab di dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku untuk merubuhkan setiap kuburan yang tinggi dan meratakannya dengan tanah.” (ibid, bab al-Amru bi Taswiyati al-Qobr, No. 93/969) 

Aku memohon kepada Allah kiranya Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersiap diri menghadapi kematian dan menempati liang kubur yang menyeramkan itu, yakni dengan memperbanyak amal shaleh selama hidup. Juga agar Dia menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendirikan Sunnah Rasul, baik dalam kehidupan kita maupun terhadap kubur-kubur kita sehingga kubur-kubur kita itu berada dalam jalur Sunnah beliau tersebut.            

Wallahu A’lam……….   

[Dikutip dari Kitab Wa ja’at sakrat al maut bi al haqq, Dr. ‘Aidh Abdullah Al Qorni Edisi terjemahan Bahasa Indonesia: Ketika Sakratul Maut Menghampiri, PT. Raja Grafindo Persada, 2005]   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: