"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Kembali Kepada Agama Allah

Semua umat Islam pasti berkeyakinan dan sangat menginginkan kejayaan islam seperti yang pernah dialami beberapa abad silam. Kekuatan Islam sangat mendominsi disetiap lini kehidupan, baik politik, ekonomi, pertahanan, peradaban dan sosial, demikian pula pada masalah ilmu sains dan teknologi.

Mengapa mereka bisa leluasa mengembangkan keinginan mereka dengan mudah dan cepat dan hasilnya terealisasi dengan sangat menakjubkan. Bagaiamana dengan kita umat islam saat ini? betulkah dengan menegakkan perintah jihad saat ini maka kondisi umat islam akan berbalik seperti waktu silam, ataukah dengan menyebar slogan ukuwah islamiyah antar madzhab, partai, golongan, jama’ah, manhaj agar mereka berada di dalam persatuan dan kesatuan umat sehingga menggentarkan musuh?

Bahkan ada yang berfirkir bahwa dengan mengusung jargon demokrasi lewat pemilu dan parlemen, penyetaraan gender atau pluralisme agama adalah jalan tercepat dalam mewujudkan islam sebagai rahmatan lil ‘alamin sehingga islam akan diakui otoritas dan peranannya di dalam dunia internasional.

Permasalahannya sekarang adalah apakah umat Islam menyadari faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab ketertinggalannya sehingga umat lain dengan leluasa menguasai kita layaknya menyantap hidangan di meja prasmanan.

Apakah di dalam dada setiap umat islam ada keinginan yang kuat untuk tidak melihat musuh-musuh kita menguasai semua lini kehidupan yang membagi peran kepada kita hanya sebagai penonton? Belum lagi seabrek masalah yang selalu menyudutkan umat Islam tatkala musuh melihat umat ini berusaha bangun dari tidurnya.

Anehnya, lagi-lagi masalah yang sama sering dijadikan tombak buat mencekik umat ini dan hebatnya pula tombak ini selalu nancap dengan akurat dijantung umat Islam, sehingga kita dengan mudah rebah bersimbah darah tanpa sedikitpun melakukan perlawanan.

Kemudian latar belakang ini dijadikan trigger yang sangat tepat untuk melakukan pembalasan. Maka sebagian umat Islam meneriakkan victory hail-nya yaitu dengan tegakkan jihad. Keluarlah fatwa untuk berjihad sampai darah penghabisan. Timbullah kecaman antar sesama umat dari kelompok yang menyuarakan perlunya jihad terhadap kelompok yang tidak sepaham dalam menghukumi permasalahan kompleks seperti ini.

Friksi yang semakin lama semakin memanas ini pada akhirnya akan menimbulkan api dari percikannya yang memaksa umat ini terpecah. Bahkan dari kelompok yang sangat ekstrim memandang perlunya jihad ini tak segan-segan melakukan pen-tahkim-an kepada saudaranya sendiri dengan sebutan fasik, munafiqun dan kafir terhadap hukum dan syariat Allah Ta’ala.

Apakah memang dibenarkan pemahaman dan cara-cara yang demikian itu? Apakah benar Allah Ta’ala mencap golongan ini dengan sebutan fasik dan kafir hanya karena berpendapat bahwa makna jihad tidak harus berarti perang angkat senjata. Terlebih lagi untuk situasi yang sangat multikompleks seperti sekarang ini yang tidak hanya melanda umat islam di negeri kita saja. Bahkan di negeri manapun islam hadir maka tak ubahnya bak makanan yang dihidangkan di atas meja makan.

Sekarang ada satu pertanyaan yang sangat penting untuk segera dijawab. Yaitu sudahkah kita berfikir usaha apa yang harus kita lakukan agar umat Islam ini disegani, ditakuti bahkan sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam? Yang jelas saat ini jawabannya bukan jihad. Mari kita koreksi kebelakang mulai dari diri kita sendiri (ibda bi nafsi) kemudian keluarga kita, tetangga kita, lingkungan kita hingga negeri kita ini. Apa yang salah? Apakah benar umat Islam di negeri ini 87%? Saya yakin benar bahkan sangat mewakili, akan tetapi sensus ini hanya berasal dari kartu identitas penduduk. Kemudian dari jumlah tersebut, berapa persenkah yang sudah menguasai Islam secara ilmu?. Maka saya pun sangat yakin bahwa sensus untuk menjawab pertanyaan ini belum pernah dilakukan oleh lembaga manapun kalaupun ada hasilnya maka jumlah yang mewakili tidak akan lebih dari 5% (yang paham Qur’an dan hadits serta kaidah-kaidahnya fiqihnya).

Padahal Allah Ta’ala telah menjanjikan derajat yang tinggi kepada umat yang berilmu dibanding dengan mereka yang hanya mengikuti apa-apa yang nenek moyang dan bapak-bapak mereka kerjakan.

Allah ta’ala berfirman:

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan yang berilmu diantara kalian beberapa derajat”. (al-Mujadilah:11)

Marilah kita memaknai ayat ini dengan seksama, bahwa umat Islam tidak cukup hanya beriman saja tanpa memiliki dan memahami ilmu syar’i dalam masalah agama ini untuk dikatakan sebagai orang yang tidak akan tersesat dan golongan yang menang. Dengan ilmu maka pandangan kita terhadap setiap perkara agama ini akan sangat jelas, terang benderang bagaikan kita melihat matahari.

Ketahuilah bahwa Islam ini pasti akan tegak dan kembali menguasai dunia, namun ketahuilah pula dengan cara apa semua ini akan kembali tewujud. Dengan jihad semata? lalu seandainya umat Islam mampu mengalahkan musuh dan umat ini menguasai dunia. Maka dengan apakah nilai-nilai Islam akan ditegakkan? Apakah hanya dengan Islamisasi terhadap umat non Islam lalu jumlah umat ini semakin banyak sehingga dengan sendirinya nilai-nilai islam akan secara otomatis mengakar di dada-dada umat islam?

Islam adalah agama ilmu yang diturunkan berupa wahyu Allah Ta’ala dan perkataan, perbuatan atau sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam bukan agama logika dan akal yang pemecahan setiap masalahnya hanya selesai dengan akal dan logika berfikir saja, namun lebih dari itu setiap perkara dalam urusan agama ini harus diselesaikan dengan ilmunya. Tegaknya Islam nanti hanya dengan apa yang pernah menjadikan Islam tegak dengannya dahulu.

Maka Ilmulah yang akan membawa umat ini kedalam masa kejayaan seperti dahulu. Bahkan semua perkara dalam Islam telah disampaikan secara jelas dan paripurna oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan tidak ada yang tertinggal.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

“Berkata Abu Dzar: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidak seekor pun burung yang terbang membalik-balikan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami.

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa sallam berkata: “Tidak tinggal sesuatupun yang mendekatkan kamu ke surga dan yang menjauhkan kamu dari neraka melainkan sesungguhnya telah dijelaskan kepada kamu”. [Shahih Imam At-Thabrani di dalam kitabnya Al Mu’jam Kabir 2/166 no.1647]

Artinya segala sesuatu dalam agama ini telah beliau sampaikan dengan sejelas-jelasnya kepada umatnya melalui para sahabat ridwanullahi ‘alaihim jami’an tanpa ada yang beliau tutupi dan sembunyikan sampai wafatnya beliau. Jadi apakah kita pantas disebut sebaik-baik umat jika kita enggan berusaha mengamalkan semua ilmu yang telah diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Pantaskah kita mengaku sebagai umatnya dengan berteriak jihad-jihad-jihad sementara tak sadar kita bahwa umat ini telah meninggalkan bahkan dengan sengaja mematikan sunnah-sunnah nabawiyyah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa sallam.

Marilah kita tengok sejenak atau bermuhasabah dengan diri kita sendiri sebelum kita berteriak jihad-jihad-jihad angkat senjata kenegeri orang atau di negeri sendiri.

Ajukan pertanyaan simple berikut ini:

1).Sudahkan hati kita selalu terpaut ke masjid untuk shalat berjama’ah selama lima waktu shalat?
2).Adakah target dalam diri kita untuk menghafal al-Qur’an 30 juz dan hadits-hadits nabawi disela-sela kesibukan kita?
3).Sudahkan istri kita anak perempuan kita dinasihati untuk selalu menutup aurat setiap keluar rumah?
4).Berapa seringkah kita pergi untuk ta’lim?
5).Sudahkan kita tahu bahwa apa-apa yang kita konsumsi adalah halal?
6).Sudahkah kita mengalihkan simpanan uang kita pada bank-bank syariah?
7).Sudahkah kita memikirkan untuk menyempurnakan rukun Islam ke lima, pergi haji?
8).Sudahkah anak-anak kita dikenalkan dengan sunnah-sunnah Rasulullah?
9).Sudah adakah media informasi elektronik yang mampu menyedot perhatian jutaan anak-anak muslim?
10).Berapa ayat al-Qur’an atau hadits yang kita targetkan pada diri kita, istri kita dan anak-anak kita untuk dihafal setiap harinya?
12).Berapa banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang sudah kita, istri kita dan anak-anak kita amalkan sehari-hari?

Masih banyak sekali pertanyaan yang tentu belum bisa dijawab seratus persen oleh setiap umat Islam di negeri ini. Ini hanya contoh dari sekian banyak perilaku kehidupan yang sebenarnya telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam yang sering luput dari perhatian kita.

Padahal ketika para sahabat mengamalkan semua apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam, maka Allah memenangkan mereka atas umat-umat yang lain. Mereka memahami Islam dengan ilmu dan ittiba (mengikuti) apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhi dan memberantas bid’ah-bid’ah syariat maupun akidah, tidak berlebihan (ghuluw) dalam beribadah, tidak taqlid dan ta’asub kepada seseorang, tidak meniru-niru (tasyabuh) dengan orang kafir, menjauhi bahkan mengingkari segala bentuk kurafat maupun kemusyrikan (quburiyyun), menghilangkan thoghut dalam diri mereka, mencintai Rasulullah melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, berkasih sayang dengan sesamanya dan keras terhadap orang kafir.

Lalu bandingkan dengan keadaan Islam di negeri ini, hampir semua yang diingkari oleh para sahabat justru banyak dilakukan oleh umat islam negeri ini, dan sebaliknya hampir semua yang dikerjakan oleh para sahabat justru ditinggalkan oleh umat islam di negeri ini pula.

Pantaskah dengan potret umat seperti ini, kemudian kita bermimpi untuk mengembalikan kejayaan umat seperti generasi salafushaleh tersebut hanya berteriak jihad-jihad-jihad sementara pondasi umat yang sangat penting luput dari perhatian kita.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah dan Agama yang haq untuk Ia menangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya”. [At-Taubah :33]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam pun bersabda:

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang dapat menandingi ketinggiannya”. [Hasan, Sunan Ad-Daruquthni no.3578]

Namun sangat disayangkan bahwa kondisi umat ini sangat jauh dari yang diharapkan dan bahkan sudah sangat terpuruk dikarenakan umat ini telah meninggalkan agamanya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
“Tidak patut kita bandingkan Islam dengan keadaan kaum muslimin pada hari ini, karena sesungguhnya kaum muslimin (pada hari ini), mereka telah melalaikan begitu banyak perkara (meninggalkan perintah) dan mengerjakan larangan-larangan yang besar. Sehingga seakan-akan orang yang hidup di antara mereka di sebagian dari negeri-negeri Islam, dia hidup di udara (yakni di lingkungan) yang bukan islami”. [Syarah Utsul Tsalasah hal. Dar At-Tsuraya 44-45]

Oleh karena balasan sesuai dengan jenis amalnya, maka kaum muslimin pun saat ini telah menerima bagian yang besar dari dua sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam:

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kamu berjual beli secara inah, dan kamu memegang buntut-buntut sapi, dan kamu senang dengan tanaman-tanaman kamu, dan kamu meninggalkan jihad, pasti Allah akan memeberikan kepada kamu kehinaan, dan Ia tidak akan mencabut kehinaan itu dari kamu sampai kamu kembali kepada agama kamu. [Shahih riwayat Abu Dawud no.3462, Ahmad 2/28 &42, Thabrani di Mu’jam Al Kabir no.13582 & 13585]

Bukankah keadaan umat saat ini pun secara sadar telah banyak mengikuti manhajnya kaum Yahudi dan Nashara dan masuk kedalam perangkap mereka dengan cara menjauhkan umat ini dari agamanya sedikit demi sedikit. Tidak dengan menjauhkan secara lahiriah namun umat Islam telah banyak digiring untuk melakukan perbuatan-perbuatan mubah yang tidak bermanfaat dan menghabisakan waktu mereka. Sehingga kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan untuk membekali diri dengan ilmu lepas begitu saja, maka setelah itu kebodohan merajalela ditengah-tengah umat ini. Banyak secara jumlah namun centang perentang bagaikan buih di lautan.

Mereka banyak menghabiskan waktu mereka di tempat-tempat yang tidak membawa kebaikan sedikitpun. Mereka telah tertipu oleh tipu daya orang-orang kafir yang pandai menggelincirkan sebagian besar umat Islam ini dikarenakan kita sebagai umat Islam tidak memahami hakekat dari agama ini.

Dibuatlah apa-apa yang telah Allah haramkan kepada kita menjadi sesuatu yang menarik hati kita, bahkan dengan dalih yang sangat hina pun kita tetap memilihnya. Sebagai contoh banyak umat ini yang telah kecanduan minuman keras yang merebak dimana-mana, bahkan di kantor-kantor dengan nama dan sebutan yang agak sopan, kemudian perjudian dan pelacuran telah memasuki halaman rumah setiap muslim dengan sebutan bukan nama aslinya. Sadarkah kita terhadap semua ini?

Ingatlah ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya sebagian manusia dari umatku akan meminum khamr (kemudian) mereka menamakannya bukan dengan namanya”. [Shahih diriwayatkan oleh Ahmad atas syarat Bukhari dan Muslim]

“Sesungguhnya akan ada sebagian dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik”. [Bukhari no.5590 dari jalan Abu Malik Al-Asy’ariy]

Kaum kufar tak henti-hentinya melakukan segala macam tipu daya yang dahsyat hingga kita (umat Islam) terlena dengan kehidupan dunianya dan enggan melakukan sedikitpun kebaikan untuk akhiratnya.

Rasulullah dalam hal ini telah bersabda:
Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Sesungguhnya kamu akan mengikuti cara-cara orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sehingga kalau mereka masuk ke lubang dhab (binatang sejenis biawak), pasti kamu akan mengikutinya”. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (yang dimaksud) Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “Maka siapakah lagi (kalau bukan mereka)!” [Hadits mutawatir, diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain]

Maka saya menyimpulkan bahwa keterpurukan umat Islam ini bukan karena kekuatan kaum kuffar dan bukan pula karena kita tidak bersatu untuk memerangi mereka (istilah sebagian orang, jihad) bukan karena tidak adanya ukuwah, pun bukan karena tidak memenangkan partai islam dalam pemilu atau menguasai kursi-kursi di parlemen dan bukan pula karena mereka (kaum kuffar, red) sering memerangi dan membantai umat Islam. Akan tetapi kekalahan umat Islam saat ini adalah karena mereka banyak yang meninggalkan agama ini (al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam).

Berapa banyak sunnah-sunnah yang telah dimatikan oleh orang-orang kafir bahkan banyak dari umat ini ikut mendukungnya, sementara sangat sedikit umat Islam yang berusaha menghidupkannya kembali namun mereka seolah dalam keadaan terasing (ghuraba) ditengah komunitas muslim sendiri, sangat menyedihkan!!

Maka apa yang sebenarnya sangat ditakutkan oleh orang-orang kafir adalah manakala umat Islam ini telah kembali kepada agama mereka dengan berbondong-bondong menghidupkan kembali SUNNAH Bahkan salah satu jihad yang mulia saat ini adalah mengembalikan dan menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang sudah banyak dimatikan dan diabaikan oleh orang-orang kafir ataupun umat Islam sendiri.

Tak mengherankan manakala seorang ulama salaf Imam Al-Barbahariy rahimahullah dalam berkata:
“Ketahuilah! Sesungguhnya Islam itu adalah Sunnah dan Sunnah itu adalah Islam. Dan tidak akan tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya (yakni tidak tegak Islam ini kecuali dengan Sunnah atau sebaliknya)”. (Syarhus Sunnah no.1)

Bahkan Rasulullah pun pernah memperingatkan kita dengan sabda beliau yang cukup terkenal, “Islam diawal kedatangannya asing dan akan datang suatu masa dimana Islam akan asing kembali, maka beruntunglah mereka yang asing”.

Berpegang teguh pada sunnah bagaikan menggenggam bara api, tak sedikit umat Islam yang tidak sanggup memegangnya kemudian melemparkan bara api tersebut demi menyelamatkan kehidupan dunia yang jauh lebih hina dimata Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Maka inilah kunci kemenangan umat Islam walau tanpa mengurangi nilai-nilai jihad yang sangat agung dalam pandangan agama ini. Namun alangkah meruginya jika sampai saat ini belum satu pun sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa sallam yang sampai kepada kita, belum kita pahami dan belum kita amalkan dan lalu kita melupakan kewajiban kita yang sesungguhnya untuk menegakkan Islam dengan Ilmu.

Semoga Allah ta’ala menjauhkan umat ini dari keterpurukan dan kebodohan dan mengembalikannya ke jalan yang lurus dan memenangkan agama yang mulia ini atas agama-agama yang lain. Allah al-musta’an

[Diambil dari berbagai sumber]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: