"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Sifat Iradah

oleh: admin 

Iradah adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah yang dijelaskan di dalam al-Qur’an yaitu merupakan kehendak yang dimiliki Allah yang menjadikan sesuatu itu terjadi atau tidak terjadi.

Sebagaimana firman-Nya: 

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [QS.2:253] 

Atau dalam firman-Nya yang lain: 

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.”[QS.6:125] 

Iradah (kehendak) Allah itu terbagi dua: 

1). Al-Iradah Al-Kauniyah

Iradah ini bersinonim dengan Al-Masyi’ah. Keduanya berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakan oleh Allah ta’ala. Apabila Allah ta’ala menghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu Dia menghendakinya.

Sebagaimana firman-Nya: 

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” [QS.36:82] 

Jadi apapun yang dikehendaki oleh Allah ta’ala niscaya terjadi, sedangkan apapun yang dikehendaki oleh Allah ta’ala untuk tidak terjadi niscaya tidak akan terjadi. 

2). Al-Iradah Asy-Syar’iyah

Iradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhoi-Nya. Iradah ini disebutkan dalam firman Allah ta’ala: 

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS.2:185] 

Perbedaan antara kedua iradah ini: 

Al-Iradah Al-Kauniyah ini bersifat umum, meliputi seluruh peristiwa dan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupun keburukan, kekafiran maupun keimanan dan ketaatan maupun kemaksiatan. 

Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah bersifat khusus berkaitan dengan apa saja yang dicintai dan diridhoi oleh Allah ta’ala yang dijelaskan di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. 

Kedua iradah di atas ini berpadu pada diri seseorang hamba yang taat. Adapun orang yang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qodariyah. Artinya ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah ta’ala baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar’iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al Qodariyah. Adapun orang kafir perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah al-qodariyah, tetapi tidak sesuai dengan Iradah ad-Diniyah Asy-Sayr’iyah.

[Dikutip dari Kitab Syarah Aqidah al-Washitiyah, Dr. Sa’id bin Wahfi Al-Qothani, Pustaka at-Tibyan]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: