"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Tafsir Surat Al-Fatihah

Surat al-Fatihah, surat tersebut dinamakan dengannya karena al-Qur’an al-Karim membukanya dengan surat tersebut. Dikatakan bahwa ia merupakan awal surat yang diturunkan secara sempurna.

Tentang surat ini para ulama berkata: “Sesungguhnya surat tersebut mencakup seluruh makna al-Qur’an mengenai tauhid, hukum-hukum, ganjaran-ganjaran dan sebagai jalan hidup bagi bani Adam serta selain dari itu.

Dan karenanya ia disebut sebagai Ummul Qur’an”.(Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Kitab Adzan no. 772 dan Muslim dalam Kitab Sholat no. 38/395). Dan menjadi tempat kembalinya segala sesuatu yang disebut induk.

Surat ini memiliki pembeda yang membedakannya dengan surat-surat yang lain. Di antaranya adalah bahwa surat ini termasuk salah satu rukun di dalam sholat dimana sholat merupakan rukun yang utama setelah dua kalimat syahadat. Maka tidak ada sholat bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul Kitab. Dan pembeda lainnya adalah surat tersebut bisa digunakan sebagai azimat (ruqyah) bila dibacakan kepada orang yang sakit, maka dengan izin Allah orang yang sakit tersebut dapat disembuhkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada orang yang membacakannya kepada orang yang tersengat, lalu orang tersebut sembuh: “Tidakkah kamu tahu bahwa surat tersebut itu ruqyah”. (Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Kitab Ijaaroh no. 2276 dan Muslim dalam Kitab as-Salam no. 65/2201).

Sungguh sebagian manusia pada hari ini memulai mengada-adakan suatu bid’ah dengan surat ini. Mereka menjadikan surat itu sebagai penutup do’a dan memulai khutbah dengan membacanya dan mereka membacanya pada sebagian acara-acara tertentu. Dan ini adalah suatu kesalahan. Engkau akan mendapatinya ketika seorang berdoa kemudian ia berkata kepada yang berada disekitarnya: “Al Fatihah!”, yaitu bacalah al-Fatihah. Serta sebagian manusia memulai dengan surat itu dalam khutbahnya atau dalam hal-hal yang lain maka ini pun adalah suatu kesalahan. Karena suatu ibadah itu dibangun di atas dalil (tauqifi) dan mengikuti contoh (sunnah).

{بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ }

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ

adalah jarr dan majrur, yang berkaitan dengan kata kerja yang dihilangkan dan kata kerja yang dihilangkan itu menetapkan perbuatan di belakangnya yang sesuai. Apabila dikatakan: بِسْمِ اللَّهِ sedangkan engkau ingin makan, maka engkau menetapkan perbuatan: “Dengan nama Allah aku makan”.

Kami katakan bahwasanya jarr majrur harus berkaitan dengan kata kerja yang dihilangkan karena jarr majrur adalah dua hal yang diperbuat (ma’mulan). Dan tidaklah dapat dipisahkan antara perbuatan dan pelakunya.

Kami menetapkan maksud dari kalimat tersebut dengan ada dua faidah:

Pertama; merupakan permohonan berkah dengan mengawali nama Allah ‘azza wa jalla. Kedua; bermakna pembatasan, karena di akhir perkataan si pelaku akan memberikan batasan sebagaimana engkau berkata: ‘Aku tidak akan makan dengan menyebut sesuatu yang memberikan berkah dan pertolongan dengannya kecuali dengan menyebut nama Allah ‘azza wa jalla’.

Kami menetapkannya sebagai perbuatan karena asal dari pekerjaan adalah perbuatan dan ahli nahwu mengetahui akan hal ini. Maka dari itu janganlah engkau mengamalkan nama-nama melainkan dengan beberapa syarat.

Kami menetapkan sebagai sesuatu yang sesuai karena ucapan bismillah menunjukkan kepada maksud. Untuk itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang belum berkurban, maka hendaklah ketika berkurban menyebut nama Allah”. (Bukhori no. 985 dan Muslim no 1/1960) Atau dengan sabda beliau yang lain: “Atas nama Allah”. Lalu menghubungkan perbuatan tersebut. (Bukhori no. 5500 dan Muslim 2/1960)

Dan kata Allah: adalah nama Allah Rabb semesta alam tidak disebut selainnya. Dia merupakan inti dari nama-nama tersebut sehingga nama-nama tersebut berasal darinya dan mengikutinya.

Dan kata Ar-Rahman, yaitu yang memiliki rahmat yang sangat luas. Maka dari itu kata tersebut terbentuk dari wajan fa’laan yang menunjukkan atas keluasannya.

Sedangkan kata Ar-Rahiim, yaitu yang berhubungan dengan rahmat bagi hamba-Nya yang dikehendaki. Maka dari itu kata tersebut terbentuk dari wajan fa’iil yang menunjukkan atas terjadinya suatu perbuatan. Maka keduanya adalah rahmat yang mempunyai arti sifat – ini menunjukkan kata Ar-Rahman – dan rahmat dalam arti perbuatan yaitu merupakan pemberian rahmat kepada orang yang dirahmati – ini menunjukkan kata Ar-Rahiim. Sedangkan kalimat Ar-Rahman Ar-Rahiim dua buah nama dari asma Allah yang keduanya menunjukkan atas zat dan sifat rahmat dan atas pengaruhnya: yaitu ketetapan hukum yang menuntut adanya sifat ini.

Sedangkan rahmat yang mana Allah menisbatkannya kepada diri-Nya adalah rahmat secara hakikat yang menunjukkan atas pendengaran dan akal. Adapun yang dimaksud pendengaran adalah apa yang datang di dalam kitabullah dan sunnah yang menisbatkan kepada rahmat Allah dan ini sangat banyak. Sedangkan akal adalah setiap apa yang terjadi karena nikmat atau karena penolakan terhadap ketidakadilan, maka ini merupakan pengaruh dari rahmat Allah.

Bersambung—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: