"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Mukaddimah

damascus.jpgSyaikh Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati dan meridhainya- merupakan tokoh besar yang fenomenal, seakan Allah belum menciptakan tokoh sekaliber ini sebelumnya. Ia memiliki karakter yang tidak dimiliki oleh generasi semasa dengannya. Selain menjadi ensiklopedi ilmu pengetahuan, ia juga seorang orator yang cerdas, peneliti yang jeli, penulis yang kreatif, seorang alim yang rajin menelaah, fakih pembaharu, mempelajari seluruh apa yang disampaikan pendahulunya, memahami dan menghafalnya di dalam ingatan yang kuat.

Dengan akal yang cerdas, pemikiran yang matang, ide dan planing yang tepat membantunya untuk menyelesaikan beberapa problem di saat-saat krisis atau genting, memiliki metode dan konsep yang telah teruji dan tidak pernah bergeser dari metode ini, ia juga tidak pernah mencabut pendapat yang ia anggap benar sebesar apapun tekanan dan iming-imingnya.

Ia cukup cakap dalam berfatwa, argumentasinya cukup jelas, dalil-dalilnya pun cukup kuat serta tidak bersandar kepada hawa nafsu, tidak satupun pendapat yang secara orisinal berasal dari dirinya sendiri, apa yang diterangkan pastilah berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta perkataan sahabat.

Metode yang ia pakai serta jalan yang ia tempuh adalah metode para sahabat, ia selalu menganjurkan dan mendukung pendapat siapa pun yang sesuai dengan kitab, sunnah dan perkataan mereka, serta mengritik dengan tajam serta menjelaskan sisi kebatilah pendapat yang bertentangan dengan mereka, siapapun orangnya, dan siapapun pendukungnya, ia tidak akan merubah pendapatnya setinggi apapun kedudukan orang yang menentangnya jika memang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, perkataan para sahabat dan tokoh-tokoh tabi’in.

Pada zamannya tersebar pemikiran yang menyatakan bahwa meminta pertolongan kepada selain Allah adalah boleh, dan dimungkinkan untuk bersandar kepada selain Allah di masa-masa susah. Mendengar ini ia segera berdiri menentang mereka seraya berteriak lantang bahwa tidak ada permintaan kecuali kepada Allah, dan tidak ada tempat bersandar pada masa susah kecuali hanya kepada Allah. Karena hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang layak untuk dijadikan sandaran, serta diketuk pintu-Nya, hingga solusi datang berkat karunia yang Dia curahkan.

Dalam menyebarkan ide, ia tidak membedakan antara awam dan terpelajar, dan jika terpaksa harus memilih, bukan karena alasan tersebut, dengan demikian apa yang dikatakan kepada orang-orang awam sama dengan apa yang ia sampaikan kepada kelompok pelajar, karena ia meyakini bahwa agama Allah diturunkan untuk semua manusia, sementara kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar -menuntutnya- untuk membimbing orang-orang yang sesat; baik dari segi segmen awam maupun terpelajar, walaupun bimbingan dan arahan bagi orang-orang awam tentu saja lebih diharuskan, karena orang-orang alim seharusnya telah berkewajiban untuk memberikan pengarahan kepada orang-orang awam bahkan kepada orang-orang terpelajar seperti mereka juga.

Ibnu Taimiyah tak pernah berhenti dalam menyebarkan ide dan gagasannya, demikian pula dengan pembelaan terhadap kebenaran agama Allah, ia sangat percaya terhadap argumen-argumen yang ia gelindingkan. Nampaknya Allah telah menganugerahkan lidah yang fasih, hati yang terang, pena pengajar, untuk itu ia menyerang orang-orang yang keluar dari agama tanpa ampun.

Namun demikian, perjuangan Ibnu Taimiyah tidak hanya terbatas dengan lisan, penjelasan, pena serta dalil dan argumentasi saja, akan tetapi ia juga membawa pedang untuk memerangi Tartar. Ia terkenal pemberani dalam medan pertempuran, ia pernah memimpin delegasi dari  kota Damaskus menghadap Qozan (Raja Tartar) untuk menghentikan aksi pengrusakan dan kezhaliman. Dalam kesempatan ini ia berbicara dengan penuh keberanian, ia tidak ragu untuk mensifati sepak terjang Qozan dengan kekerasan dan kekejaman.

Namun demikian, ia tetap menjalankan tugas-tugasnya hingga Allah memenangkan kaum muslimin atas mereka dalam sebuah peperangan yang menyebabkan mereka tidak pernah bangkit lagi.

Nama, Kelahiran dan Keluarganya

Beliau bernama lengkap Abu Al-Abbas Ahmad Taqiyuddin Ibnu As-Syaikh Syihabuddin Abi Al-Mahasin Abdu Al-Halim Ibnu As-Syaikh Majdi Ad-din Abi Al-Barakat Abdu As-salam Ibnu Abi Muhammad Abdillah Abi Al-Qosim Al-Khadhri.

Keluarga baik ini dikenal dengan sebutan (Bani Taimiyah), sebab penamaan ini adalah karena Ibu dari salah seorang kakek mereka yang bernama (Taimiyah) adalah seorang juru dakwah yang cukup terkenal, maka seluruh anggota keluarga ini dinisbatkan kepadanya yang kemudian dikenal dengan nama ini.

Beliau lahir pada tanggal 10 bulan Rabiul Awal 661 H di kota Harran sebelah timur laut Negara Turki, tempat yang dulu menjadi pusat terpenting agama-agama dunia.

Ibnu Taimiyah dibesarkan pertama kalinya di kota ini, hingga berumur 16 tahun; dan karena serangan Tartar atas kota ini, beliau dan seluruh penduduknya terpaksa pindah ke kota Damaskus.

Tak ada sejarawan pun yang mencatat nama kabilah arab yang dinisbatkan kepadanya, barangkali ini menunjukkan bahwa ia bukan keturunan Arab, kemungkinan ia berasal dari suku Kurdi, yang dikenal sebagai suku yang memiliki tekat yang kuat, kekuatan fisik, kecerdasan dan kepandaian.

Mereka juga tidak menyebutkan apapun tentang Ibu dan asal kabilahnya, kemungkinan terbesar juga bukan berasal dari bangsa Arab, beliau masih hidup saat putranya sampai kepada puncak keberhasilan. Beliau juga banyak berperan dalam kesuksesan hidupnya. Ketika Ibnu Taimiyah berada di Mesir ia menulis sebuah surat kepada ibundanya yang dipenuhi dengan bakti, cinta kasih, keikhlasan serta keimanan.

Akhirnya keluarga besar ini pindah ke kota Damaskus, lalu menetap di sana, begitu sang Bapak (Syaikh Syihabuddin) sampai ke kota Damaskus ini, kebaikan-kebaikannya dengan cepat tersebar, dan menjadi terkenal, beliau memiliki jam pengajian khusus di Masjid Jami’ Damaskus, lalu menjadi Syaikh pada Dar al-Hadits, yang kemudian menjadi tempat tinggal dan tempat putranya Ibnu Taimiyah dibesarkan.

Ayah dan Kakek Ibnu Taimiyah

Ayah Ibnu Taimiyah bernama Abdul Halim bin Abdussalam Syihabuddin, dilahirkan di Harran Tahun 627 H. Ia belajar dari ayahnya Abdussalam dan beberapa guru lainnya, mendalami madzhab Hambali dari ayahnya hingga menguasainya, setelah itu ia mengajar dan memberikan fatwa sebagai seorang imam yang sangat teliti, perangainya sangat terpuji, ia juga sangat dermawan dan ringan tangan. Meninggal di Damaskus pada tahun 683 H.

Adapun kakeknya bernama Abdussalam bin Abdullah; seorang fakih dari Madzhab Hambali, ia seorang imam, ahli hadits, juga mufassir yang fakih dan menguasai ilmu-ilmu bahasa, ia dikenal sebagai seorang Huffadz yang tersohor, pengarang kitab; “Muntaqo Al-Akhbar”, buku ini sudah disyarah oleh Imam Asy-Syaukani dengan judul, “Nailul Authar Syarh Muntaqo Al-Akhbar”. Ia dilahirkan di Harran  juga pada tahun 590 H, lalu hijrah ke Baghdad dan tinggal di sana beberapa tahun, lalu kembali lagi ke Harran, dan akhirnya wafat di sana pada tahun 652 H.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa baik ayah maupun kakek Ibnu Taimiyah merupakan tokoh dan ulama Muslimin yang ternama, keduanya memiliki kontribusi yang cukup signifikan dalam membentuk kehidupan Imam kita Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Masa Pertumbuhan Ibnu Taimiyah

Sejak masih kecil Ibnu Taimiyah sudah mulai menghafal al-Qur’an, yang ia lanjutkan dengan menghafal hadits serta riwayatnya, ia juga telah belajar beberapa kitab dari para Syaikh ternama dan dari buku-buku induk dalam hadits seperti Musnad Imam Ahmad, Shahih Al-Bukhari dan Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud dan An-Nasa’i, Ibnu Majah serta Daruquthni.

Para ulama berkata; “Buku yang pertama yang ia hafal adalah “Al-Jam’u baina As-Shahihaini” karya Imam Al-Humaidi”, mereka juga berkata, “Sesungguhnya ia telah mendengar (menghafal) Musnad Imam Ahmad beberapa kali”.

Selain memperdalam ilmu hadits ia juga belajar ilmu lain seperti matematika, sangat perhatian terhadap ilmu-ilmu bahasa Arab, menghafal beberapa matan dalam berbagai disiplin ilmu dan sejarah bangsa Arab klasik, ia mempunyai pandangan dan perhatian khusus terhadap buku Sibawaih sehingga buku ini benar-benar didalami dengan sangat teliti.

Ia memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap fikih Hambali, dengan cara mengikuti dan meneliti perkembangan madzhab ini dari masa ke masa, namun ia tidak meninggalkan madzhab lain terutama Madzhab Syafi’i.

Ayahnya merupakan sebaik-baik pendidik bagi anaknya, karena ia merupakan seorang ulama besar dalam Madzhab Hambali serta seorang ulama Hadits yang sangat otoritatif (menonjol).

Ia melihat anaknya memiliki kelebihan dibanding kawan-kawan sebayanya dalam hal kesungguhan serta perhatian kepada hal-hal yang bermanfaat dalam bidang ilmu dan studi, akal dan hatinya terbuka terhadap hal-hal sekelilingnya, ia memiliki ingatan yang cukup tajam, pikiran yang selalu siaga, hafalan yang cukup kuat, pemikiran yang luas serta kecerdasan semenjak kanak-kanak.

Ia mempergunakan seluruh apa yang dianugerahkan Allah kepadanya di jalan ilmu pengetahuan untuk mendalami pendapat dan gagasan para sahabat. Dengan menggunakan metode induktif ia meneliti dan mempelajari kajian-kajian fikih yang telah ditulis oleh ulama-ulama yang sangat otoritatif dalam bidang teori dan eksperimen empiris seperti Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhum. ia juga sangat intens mempelajari fatwa-fatwa Said bin Al-Musayyib, Ibrahim an-Nakha’i, Al-Qasim bin Muhammad dan ulama-ulama Tabi’in yang lain.

Semua ilmu ini ia sinergikan dengan pengetahuan yang berkembang pada zamannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu bidang ilmu pun yang tidak ia perdalami.

Salah seorang ulama zamannya berkata; “Sungguh Allah telah melembutkan ilmu pengetahuan di hadapan Ibnu Taimiyah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melembutkan besi dihadapan Nabi Dawud, apabilaia ditanya tentang disiplin ilmu tertentu, orang-orang yang saat itu mendengar jawabannya pasti akan mengira bahwa ia tidak menguasai disiplin ilmu lain selain itu, dan akan menyimpulkan bahwa tidak ada orang lain yang lebih menguasai darinya.

Jika sedang duduk bersama Ibnu Taimiyah, seluruh fuqoha dari berbagai golongan pasti akan mendapatkan informasi baru tentang madzhabnya yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Dan belum pernah terdengar berita bahwa ia terdiam saat berdialog dengan orang lain. Jika ia berbicara dalam disiplin ilmu tertentu -baik ilmu agama maupun umum- pasti dapat melebihi pakar di bidangnya. Di samping itu ia memiliki keterampilan yang cukup tinggi dalam bidang tulis menulis”.

Mulai Mengajar

Dalam hal ini Syaikh Syihabuddin -sang ayah- menjadi idolanya, ia selalu ingin meniru dan menjadi seperti ayahnya, dimana ia selalu memperhatikan dan mendengar ayahnya dengan seksama saat ia mengajar sambil duduk di kursi dalam Masjid Jami’ Damaskus. Ia juga mengajar Hadits di berbagai Madrasah, namun ajal segera menjemputnya pada tahun 682 H. Pada saat itu Ahmad -putranya- masih berumur 21 tahun.

Selang setahun setelah itu, Ibnu Taimiyah menggantikan posisi ayahnya, yang berarti ia masih berumur 22 tahun, mulai saat itu ia duduk di tempat duduk ayahnya, serta menggantikannya dalam mengajar Hadits; sejajar dengan Ibnu Daqiq Al-‘Ied dan para ulama lainnya pada zaman itu sedang naik daun, dan sudah mengajar di berbagai sekolah dan Masjid Jami’ di Damaskus. Namun demikian, kredibilitas Ibnu Taimiyah -bila tidak bisa dikatakan melebihi-, tidak lebih rendah.

Imam Adz-Dzahabi mensifati Ibnu Taimiyah saat duduk di atas kursi dalam Masjid Jami’ Damaskus, “Rambut dan jenggotnya telah bercampur antara hitam dan putih, panjang rambutnya menyentuh ujung daun telinganya, sementara mata dan lisan keduanya berbicara, postur tubuhnya sedang-sedang saja, suaranya lantang, sangat fasih, membaca dengan cepat, ia terkadang sangat tegas, namun disisi lain sangat penyabar, belum pernah aku melihat orang lain sepertinya dalam bermunajat kepada Allah, dan meminta pertolongan serta banyaknya pengaduan kepadaNya”.

Demikian Adz-Dzahabi mensifati sisi fisik Ibnu Taimiyah belum termasuk kelebihan Ibnu Taimiyah dalam sisi akal. Ini semua menjadi faktor-faktor penting yang menyebabkan ia memiliki wibawa dan pengaruh terhadap orang yang diajak berbicara, dan siapapun yang mendengarkan apa yang ia sampaikan, segera mereka memberi seluruh hati dan perasaan mereka kepadanya.

Ketika Ibnu Taimiyah mulai menyampaikan pelajaran di Masjid Jami’ Al-Kabir Damaskus, ucapan-ucapannya segera meluncur ke tengah masyarakat, serta menjadi buah bibir mereka di semua tempat, ini yang mendorong mereka untuk datang menghadiri pelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: