"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: admin

Bismillahirrahmanirrahim

Di antara umat islam saat ini masih banyak yang kurang memahami hakikat ber-ittiba kepada as-sunnah nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka justru masuk ke dalam perangkap-perangkap madzhab (golongan) dan berbangga-bangga dengan madzhabnya. Mereka lupa bahwa para imam madzhab yang empat yang mereka (kaum muslimin saat ini) saling unggulkan justru tidak satu pun dari mereka yang memperbolehkan untuk mengikutinya bahkan taqlid kepadanya tanpa tahu dari mana para imam mengambil pendapatnya tersebut. Sungguh ini suatu musibah yang besar yaitu merajalelanya budaya ta’asub dan kebodohan yang mencuat disebabkan oleh kurangnya ilmu dan pemahaman shahih terhadapnya.

Padahal Allah ta’ala berfirman:

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءقَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”. (Al-A’raaf : 3)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan para sahabat beliau dalam sebuah nasihat yang meluluhkan hati para sahabat ketika itu.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“…maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham kalian dengan kuat”.

Maka demikianlah Allah ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menjauhi segala bentuk pendapat dan pemahaman yang menyelisihi keduanya dari siapapun dan setinggi apapun kedudukan orang yang menyelisihinya.

Menjadi sesuatu yang tidak mengherankan bagi kita manakala para imam madzhab yang empat jauh-jauh hari telah memperingatkan kepada para murid beliau dan seluruh tholibul ‘ilmi dan manusia ketika itu dengan kalimat-kalimat yang sangat indah. Berikut ini kami sajikan perkataan dari mereka tentang keharusan mengambil sunnah (hadits) dan meninggalkan perkataan siapapun yang menyelisihinya.

Imam Abu Hanifah (80 H – 150 H)

Imam madzhab pertama adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Para muridnya meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu tujuan, yaitu berpegang kepada Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhkan sikap membeo kepada pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata:

إذا صح الحديث فهو مذ هبي

“Jika suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku”. (Ibnu Abidin dalam Kitab Al-Hasyiyah 1/63)

لايحل لأحد أن يأ خذ بقولنا مالم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak mengetahui dari mana kami mengambil perkataan tersebut”. (Ibnu Abdil Barr dalm Kitab Al-Intiqo fi Fada’il hal. 145, Ibnu Qoyyim dalam Kitab I’lamu Al-Muwaqiin II/309)

Pada riwayat lain dikatakan bahwa beliau mengatakan: “Orang yang tidak mengetahui dariku, haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa”. Pada riwayat lain ditambahkan: “Kami hanyalah seorang manusia, hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya”. Pada riwayat yang lain dikatakan: “Wahai Yaqub (Abu Yusuf), celakalah kamu! janganlah kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari  ini saya berpendapat demikian, tapi hari esok saya meninggalkannya. Besok saya berpendapat demikian, tapi hari berikutnya saya meninggalkannya”. (Sya’rani Kitab Al-Mizan I/62)

إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى و خبر الرسول صلى الله عليه و سلم فاتركواقولي

“Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang menyelisihi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah pendapatku itu”. (Al-Filani dalam Kitab Al-Iqazh hal. 50)

Imam Malik bin Anas (94 H – 164 H)

Beliau menyatakan: “Saya hanyalah manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah maka ambillah, dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah maka tinggalkanlah”. (Ibnu Abdil Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam Kitabnya Ushul Al-Ahkam VI/149)

كل أحد يؤخذ من قوله ويترك، إلا صاحب هذا القبر

“Setiap orang perkataannya bisa diambil dan ditinggalkan kecuali pemilik kubur ini shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Adz Dzahabi dalam Kitab Syiar ‘Alaam An-Nubala’ 8/93)

Ibnu Wahhab berkata: “Saya pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari kaki dalam wudhu, jawabnya: ‘Hal itu bukan urusan manusia’, Ibnu Wahhab berkata: ‘Lalu saya tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian saya berkata kepadanya: ‘Kita mempunyai hadits tentang hal tersebut’. Dia bertanya: ‘Bagaimana hadits itu?’, Saya jawab: ‘Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, ‘Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dari Yazid bin ‘Amr Al-Mu’afiri, dari Abi ‘Abdurrahman Al-Habali, dari Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyiyyi ujarnya: ‘Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari kakinya. ‘Malik menyahut: ‘Hadits ini hasan, saya tidak mendengar ini kecuali kali ini’. ‘Kemudian dilain waktu saya mendengar dia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu untuk menyela-nyela jari-jari kakinya”. (Muqaddimah Kitab Al-Jarh Wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, hal. 31-32 dan Baihaqi dalam Sunan-nya I/81)

Imam As-Syafi’i (150 H – 206 H)

Beliau pernah berkata:

“Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang menjadi pendapatku”. (Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq XVI/1/3, Ibnu Qoyyim dalam I’lamu al-Muwaqi’in II/363-364)

“Seluruh kaum muslimin telah sepakat bahwa orang yang secara jelas mengetahui suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang”. (Ibnu Qoyyim dalam I’lamu al-Muwaqi’in II/361)

“Bila engkau menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkan pendapatku”. (An-Nawawi dalam Al-Majmu I/63)

“Bila suatu hadits shahih itulah madzhabku”. (An-Nawawi dalam Al-Majmu dan Sya’rani I/57)

Ketika beliau berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal:

“Kalian lebih tahu tentang hadits dan para perawinya dari pada aku. Apabila suatu hadits itu shahih, beritahukanlah kepadaku dimanapun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau Syam sampai aku pergi menemuinya”. (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu As-Syafi’i hal. 94-95)

“Bila suatu masalah ada haditsnya yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kalangan ahli hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya baik selama aku hidup maupun setelah aku mati”. (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah IX/107)

“Setiap hadits yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti itulah pendapatku sekalian kalian tidak mendengarnya sendiri dariku”. (Ibnu Abi Hatim hal. 93-94)

“Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku”. (Ibnu Asakir 15/9, Ibnu Abi Hatim hal. 93)

“Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi hadits Nabi yang shahih ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna”. (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu As-Syafi’i hal. 93)

Imam Ahmad bin Hanbal (164 H – 241 H)

Beliau adalah seorang yang paling banyak menghimpun hadits dan berpegang teguh kepadanya sehingga beliau benci menjamah kitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan ra’yu. (Ibnu Jauzi dalam Al-Manaqib hal. 192)

Beliau berpesan dengan perkataannya:

“Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil”. (Ibnu Qoyyim dalam I’lamu al-Muwaqi’in II/302, dan Al-Filani hal. 113)

Pada riwayat lain beliau menyebutkan:

“Janganlah kamu taqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu, apa yang datang dari Nabi dan sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima)”. Di lain waktu ia berkata juga: “Yang dinamakan ittiba yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih”. (Abu Dawud dalam Masa’il Imam Ahmad hal. 276-277)

“Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). Bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (hadits)”. (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ II/149)

“Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia berada di jurang kehancuran”. (Ibnu Jauzi hal. 142)

Jika demikian perkataan para imam madzhab dalam memperingatkan umatnya ketika itu untuk berpegang teguh dengan sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka pantaskan di jaman sekarang ada orang yang lebih mendahulukan madzhabnya daripada perkataan dan perbuatan Rasulullah? Semoga kita tidak termasuk kedalam orang-orang yang demikian. Maka ingatlah akan firman Rabb kita:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa : 65)

hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.  (An-Nuur : 63)

Wallahu A’lam

[Dikutip dari mukaddimah Kitab Shifat Shalat Nabi hal. 52-61 Penulis Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani, Penerbit Media Hidayah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: