"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Adab Berdakwah Ilallah

oleh: admin

Bismillahirahmanirrahim

Dakwah berasal dari kata dasar دعا (da’aa) yang  maknanya dalam bahasa arab adalah طلب (tholaba) yaitu menuntut atau سئل (sa’ala) yaitu meminta. Seiring dengan perubahan kata secara bahasa(tashrif lughowi) kata دعا (da’aa) dapat ditashrif menjadi:

دعا – يدعو – دعوة yang memikili pengertian sebagai: menyeru – sedang/akan menyeru – seruan/ajakan (dakwah) sehingga kata dakwah yang sering kita dengungkan adalah bentuk isim masdar (kata kerja yang dibendakan) dari kata kerja (fiil) دعا (da’aa). Sedangkan pelakunya (fa’il-nya) adalah داع (da’i) atau orang yang menyeru dalam bentuk tunggal sedangkan jamaknya adalah دعاة (du’at).

Da’i atau du’at dapat bersifat umum atau khusus. Arti secara umum yakni setiap muslim yang telah baligh. Sedangkan dalam arti khusus adalah para ulama.

Adapun objek seruan itu atau orang yang diseru atau diajak (isim maf’ul-nya) adalah مدعو (mad’u).

Pembahasan disini adalah berkaitan dengan perbuatannya yaitu دعوة (da’watun). Dakwah memiliki tiga buah dimensi alur yaitu:

a. امر (amrun) yaitu perintah dari atas ke bawah dalam hal ini dari Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya.

b. دعاء (du’aun) yaitu perintah dari bawah ke atas dalam hal ini permohonan seorang hamba kepada Allah ta’ala.

c. التماس (iltimasun) yaitu perintah kepada sesama hamba (sederajat).

Kata دعوة dalam bahasa arab semakna dengan kata نداء (memanggil) dan ia masih bersifat عام (‘amun) yaitu umum atau mutlak, karena ia bisa bermaksud الى الله (ilallah) atau lawannya yaitu الى غيرالله (ila ghoirullahi). Sehingga pengertian yang benar seharusnya adalah bukan sekedar dakwah saja melainkan harus dikhususkan makna umum tersebut menjadi dakwah kepada Allah ta’ala.

Adapun rukun dakwah terdiri dari:

1.Da’i yaitu orang yang mengajak atau menyeru ke jalan Allah.

2.Mad’u yaitu orang yang diajak atau diseru ke jalan Allah.

3.Manhaj Dakwah yaitu metode atau cara dalam menyampaikan.

4.Wasaa’il yaitu sarana atau media dalam menghantarkan dakwah kepada masyarakat.

Syarat-syarat dakwah:

Pertama; Ikhlas Lillahi ta’ala yaitu dakwah yang dilakukan hendaknya semata-mata atau ikhlas hanya karena mengharapkan wajah Allah tidak boleh ada tujuan lain yang merusak maksud dakwah tersebut seperti misalnya: agar terpandang atau tersohor, sum’atun (harum namanya), mencari materi atau dijadikan sarana ma’isyah bagi dirinya, atau mencari sebanyak-banyaknya pengikut.

Kedua; Harus memiliki ilmu (‘alal ‘ilmi) yaitu dakwah harus dilandasi oleh ilmu sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Bukhori dalam bab khusus tentang ilmu yaitu bab tentang ilmu sebelum berbicara dan beramal. Allah ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)

Ketiga; Memperhatikan mad’u (orang yang didakwahi) dan keadaannya. Sebagaimana Allah berfirman:

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaha :44)

atau dalam firman-Nya yang lain:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”. (Ibrahim : 4)

Hendaklah dakwah disampaikan dengan tidak memperlihatkan kelebihan atau kualitas diri kita akan tetapi posisikan kondisi mad’u. Artinya jangan sekali-kali menyampaikan sesuatu yang tidak dipahami oleh mad’u.

Keempat; Memanfaatkan berbagai macam kesempatan dan momen-momen tertentu. Allah ta’ala berfirman:

“Yusuf berkata: “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian,

Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf : 37-40)

Selain dari itu jalan dakwah tidak bisa menggunakan sarana yang menyelisihi syari’at.

Kelima; Memperhatikan waktu dan keadaan

Keenam; Memulai dakwah dengan apa yang dimulai oleh Allah dan Rasul-Nya yaitu mendahulukan ajakan tauhid. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut  itu” (An-Nahl : 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-Anbiyaa : 25)

Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Al-Ankabuut : 16)

Ketujuh; Mengetahui urutan atau sistematis dakwah (tartibul awlawiyat) seperti; tauhid, sholat, puasa, zakat dan seterusnya. Tidak terbalik urutannya. Misalkan kita menjumpai seseorang di masjid ketika waktu sholat tiba. Seseorang tersebut sedang merokok. Maka kaidah yang benar adalah ajaklah ia untuk sholat dahulu baru didakwahi untuk menjauhi rokok, bukan sebaliknya.

Kedelapan; Mencari sesuatu cara untuk melicinkan dakwah agar tersampaikan kepada umat.

bersambung insya Allah———-

[Dirangkum dari Kajian ilmiah oleh al-Ustadz Ahmad Rofi’i Lc]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: