"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: Abu Fatih Muhammad Haris As Syirbuni

Pada dasarnya tidak ada umat Islam yang tidak menginginkan tegaknya hukum Allah dimuka bumi ini. Mungkin hanya orang munafik saja yang enggan dengan tegaknya hukum Allah dan berusaha menghancurkan tujuan tersebut dari dalam. Namun perlu kita sadari semua bahwa sebelum tegaknya hukum Allah ini maka kita pun harus berkaca diri sudah sejauh mana hak-hak Allah kita penuhi. Bukankah Allah hanya akan menolong umat ini manakala umat ini pun menolong agama Allah? Sebagaimana di jelaskan oleh Allah dalam firman-Nya pada surat Muhammad ayat 7 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman tolonglah agama Allah niscaya Dia akan menolong kalian dan menguatkan kedudukan kalian”.

Saudaraku, sebelum kita bicara untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah di negeri ini, alangkah baiknya sekiranya kita lebih dahulu meluruskan lalu mempertahankan syariat islam yang sudah tegak di negeri ini bahkan  sudah ada sejak pertama kalii islam masuk ke negeri ini ratusan tahun lalu yang mungkin banyak dari kita melupakannya, dialah  adzan. Betapa sering kita mendengar suara adzan menembus batas keheningan kita bahkan kegaduhan suasana sekitar kita atau bahkan memecah suasana nyaman yang sedang kita lewati baik itu di pagi buta, siang, sore  atau malam hari.  

Nah apakah cukup bagi kita memahami hakikat adzan sebagai tanda masuk waktu sholat? Renungkanlah wahai saudaraku. Jika kita hanya menganggap panggilan adzan hanya berupa teriakan seorang muadzin, yang hanya menandakan masuknya waktu sholat maka berhati-hatilah dengan diri kita. Banyak umat islam yang melupakan esensi dari adzan tersebut, terkadang karena kesengajaannya atau mungkin karena seribu alasan beban dunianya yang tak kunjung surut sehingga menyulitkan mereka untuk segera memenuhi panggilan shalat tersebut. Kita semua maklum bahwa kita saat ini banyak disibukan oleh urusan pekerjaan baik sebagai pekerja kasar harian, buruh pabrik, karyawan, pedagang, pengusaha, ataupun lainnya.

Namun sebenarnya masih ada kesenggangan waktu yang kita miliki untuk menyambut panggilan adzan tersebut yaitu pada waktu malam hari selepas kita bekerja yaitu menunaikan shalat Isya berjama’ah dan pada waktu fajar setelah kita terbangun dari tidur yaitu menunaikan shalat subuh berjamaah. Namun inipun kadang terlupakan atau sengaja dilupakan dengan dalil seribu macam tayangan televisi telah menanti. Na’udzu billah!!

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu”. [Al-Baqarah : 238]

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku”. [Al-Baqarah : 43]

Demikian pula keutamaan berjamaah tidak dapat dihilangkan oleh keadaan sekalipun dalam keadaan darurat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata”. [An-Nisa : 102]

Allah Subahanahu wa Ta’ala mewajibkan pelaksanaan shalat berjamaah dalam suasana perang, lebih-lebih dalam suasana damai. Jika ada seseorang yang dibolehkan meninggalkan shalat berjamaah, tentu barisan yang siap menghadap serangan musuh itu lebih berhak untuk diperbolehkan meninggalkannya. Namun ternyata tidak demikian, karena melaksanakan shalat secara berjama’ah termasuk kewajiban utama, maka tidak boleh seorangpun meninggalkannya.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda: 

“Shalat yang paling berat untuk orang munafik adalah shalat Isya dan subuh, sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak”. [Muslim Kitab Masajid 252, No. 651]

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut”. [Muslim Kitab Masajid 252, No. 651]

Sedemikian hebatnya keutamaan dan dampak dari shalat berjama’ah sehingga Rasulullah hendak membakar rumah-rumah kaum lelaki yang meninggalkan shalat berjama’ah. Namun betapa menyedihkannya di negeri ini banyak ulama yang lebih menyoal tentang fadhilah shalat berjama’ah dari sudut pandang pahala dan ganjarannya saja. Dikemanakan hadits-hadits yang mulia ini? Bukankah dengan shalat berjama’ah persatuan umat akan diraih, kekuatan musuh bisa diatasi? Bukankah kaum ‘Ad dan Tsamud dimusnahkan Allah ketika waktu fajar? Bukankah pergantian khalifah rasyidah dilakukan di dalam masjid ketika ba’da shalat subuh berjama’ah? Bukankah kita banyak menyoal penegakan syariat Islam dan hukum Allah melalui khutbah-khutbah di atas mimbar, berdemo bahkan kadang mengeritik pedas waliyul amri dan menyematkan gelar-gelar buruk kepadanya seperti  pemimpin sekuler, pemimpin boneka, antek dan pembantu zionis yahudi yang intinya sebagai pemerintah yang tidak berhukum pada hokum Allah? Sementara tidak disadari pada waktu yang bersamaan kita pun sedang meninggalkan syariat Islam yang justru paling besar keutamaannya. Pembeda antara muslim dan kafir, dan pembeda antara mu’min dan munafik. Saudaraku marilah kita tengok atsar dari sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

Ia berkata, “Aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya atau orang sakit. Bahkan yang sakit pun ada yang dipapah dengan diapit oleh dua orang agar bisa ikut shalat (berjama’ah)”. Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sunanul huda, dan sesungguhnya di antara sunanul huda itu adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 654]

Saudaraku, selagi kita tidak mampu menjadikan generasi salafushaleh kita sebagai uswah jangan harap kita mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada jalan pintas, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat ridwanullahi ‘alaihim ajma’in pun tak menempuh jalan pintas dan praktis. Ujian dari Allah dapat pula berupa kesenangan dan kenyamanan. Lihatlah negeri ini yang aman dan damai namun karena keamanan dan kedamaiannya pula banyak dari kita menjadi lalai akan terpenuhinya hak-hak Allah yang utama.Untuk lebih memahami lebih jauh kita simak perkataan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu lebih lanjut:  

“Barangsiapa yang ingin bertemu Allah kelak sebagai seorang Muslim, maka hendaklah ia memelihara shalat-shalat yang diserukan itu, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda, dan sesungguhnya shalat-shalat tersebut termasuk sunanul huda. Jika kalian shalat di rumah kalian seperti shalatnya penyimpang ini di rumahnya, sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Tidaklah seorang bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian berangkat ke suatu masjid di antara masjid-masjid ini, kecuali Allah akan menuliskan baginya satu derajat serta dengannya pula dihapuskan darinya satu kesalahan. Sungguh aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya, dan sungguh seseorang pernah dipapah dengan diapit oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf (shalat)” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 257, 654]

Masih dalam Shahih Muslim: 

Disebutkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya keringanan untuk shalat di rumahku ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ?” ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Bagaimana mungkin kita berteriak tegakkan syariat Islam dan hukum Allah namun sunnah-sunnah Rasulullah kita tinggalkan. Marilah kita ikuti perkataan salah satu salaf kita tersebut yang berkata bahwa sedikit dalam mengerjakan sunnah jauh lebih baik dibanding banyak namun penuh dengan bid’ah.

Inilah sebagian kecil nasihat dari hamba yang fakir ini untuk kita renungkan bersama. Semoga dengan ini semua syariat islam kelak akan tegak sebagai refleksi kualitas umat islam yang ada.

Wallahu A’lam

Comments on: "Cermin Diri Seorang Muslim Melalui Shalat Berjama’ah" (4)

  1. Alhamdulillah sobat dan sobat-sobat lain yang juga bermujahadah untuk senantiasa sholat berjamaah di masjid-masjid ……., semoga sobat dan kita semua diberikan Istiqomah dalam menjalankan sunah Rasulullah tsb sampai ajal menjemput. Amin ………….

  2. Alhamdulillah sobat dan sobat-sobat lain yang juga bermujahadah untuk senantiasa sholat berjamaah di masjid-masjid ……., semoga sobat dan kita semua diberikan Istiqomah oleh Allah Swt dalam menjalankan sunah Rasulullah tsb sampai ajal menjemput. Amin ………….

  3. Sungguh luar biasa bagi seseorang yang mampu secara istiqomah dalam melaksanakan sholat berjamaah…di masjid….dan di awal waktu. Itulah sebenar-benarnya hidayah dari Allah SWT. …

  4. mari kita bersama2 mengetuk pintu2 orang muslim untuk di ajak bersama2 kita untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. mari kita ajak saudara2 muslim untuk taat kpd ALLLAH SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: