"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sesungguhnya kondisi umat Islam yang kita lihat sekarang ini adalah kondisi dimana umat Islam mengalami kelemahan, keterbelakangan, dikuasai, dimusuhi, diteror, dan dihina oleh musuh-musuh Islam. Hal ini merupakan musibah yang besar dan bencana yang merata dimana-mana. Karena itu wajib atas kita, untuk berusaha menghilangkan kelemahan dan cengkraman musuh-musuh Islam. Untuk membangun kekuatan umat Islam, maka harus dicari lebih dahulu penyakit yang menimpa umat ini. Orang-orang yang berhak mendiagnosa penyakit umat ini adalah para ulama yang faham penyakit umat berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan bukan orang-orang politikus yang jahil tentang agama sehingga penyakit umat bertambah parah. Di antara mereka mempunyai pendapat yang berbeda-beda yang terbagi menjadi beberapa kelompok, di antaranya:

Kelompok pertama; berpendapat bahwa kekalahan umat ini disebabkan karena makar (tipu daya) orang-orang kafir sehingga mereka menduga bahwa obatnya adalah menyibukkan kaum muslimin dengan  membaca rencana-rencana mereka, mencari-cari data serta fakta tentang makar mereka, dan lain sebagainya.

Kelompok kedua; berpendapat bahwa penyakit umat Islam disebabkan adanya penguasa-penguasa yang zhalim di sebagian negara Islam sehingga mereka menduga bahwa obatnya adalah menjatuhkan (melengserkan) penguasa yang zhalim dan mencekoki umat Islam untuk membenci penguasa dan memusuhi mereka.

Kelompok ketiga; berpendapat bahwa penyakit umat Islam disebabkan oleh terpecah-belah dan tidak bersatunya umat ini sehingga mereka menduga bahwa obatnya adalah menyatukan jumlah umat islam agar umat ini terlihat banyak.

Kelompok keempat; berpendapat bahwa penyakit umat Islam disebabkan karena mereka tidak menempati atau tidak memegang posisi kunci di pemerintahan sehingga mereka berlomba-lomba membuat partai dan mencari pendukung sebanyak-banyaknya dari berbagai tingkatan lapisan masyarakat dan berbagai latar belakang pendidikan dan agama mereka, yang penting partainya menang dan mendapatkan jabatan atau kedudukan.

Kelompok kelima; berpendapat bahwa penyakit umat ini karena mereka meninggalkan jihad fi sabilillah sehingga jihad harus ditegakkan. Mereka meneriakkan dan mengumandangkan jihad di mana-mana dan apa saja bentuknya melawan pemerintah, membunuh orang kafir pun dikatakan jihad, bahkan segala macam cara mereka gunakan atas nama jihad.

Akan tetapi pendapat mereka di atas adalah salah dalam melihat penyakit umat ini, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kesalahan kelompok pertama; Apabila umat Islam mempelajari, memahami dan meyakini serta mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta tetap bersabar, maka tipu daya musuh tidak akan membahayakan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”. (Ali-Imron : 120)

Kesalahan kelompok kedua; Bahwasanya keberadaan penguasa yang zhalim merupakan hukuman yang Allah timpakan kepada orang-orang (rakyat) yang berbuat zhalim, dengan sebab dosa-dosa yang dilakukan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

 وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (Al-An’aam : 129) 

Kesalahan kelompok ketiga; Jumlah yang banyak (mayoritas) dengan banyaknya dosa dan penyimpangan tidaklah bermanfaat apa-apa. Lihatlah bagaimana para sahabat mengalami kekalahan ketika terjadi Perang Hunain, padahal jumlah mereka sangatlah banyak. Allah Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

“..dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. (At-Taubah : 25)

Bergabung dengan orang-orang yang berbuat kesyirikan, bid’ah, maksyiat dan kemungkaran lainnya tidaklah dapat menegakkan syariat Islam.

Kesalahan kelompok keempat; Bahwasanya banyaknya partai justru membuat bertambah banyaknya perpecahan di tengah kaum muslimin dan masing-masing partai bangga dengan partainya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“..dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (Ar-Ruum : 31-32)

Begitu pula dalam partai Islam dilarang mengharapkan jabatan dan kedudukan dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Abu Dzar mengharapkan jabatan, padahal beliau adalah sahabat yang mulia. Dan kita lihat orang-orang yang memegang jabatan apakah mereka memperjuangkan Islam? Apakah mereka menegakkan syariat Islam untuk diri mereka dan keluarganya atau mereka bertambah jauh dari Islam, bahkan membuat kerusakan, dan memutuskan silaturahim?

Allah Ta’ala berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ  أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. (Muhammad : 22-23)

Kesalahan kelompok kelima; Sama dengan kelompok-kelompok sebelumnya yang insya Allah saya akan jelaskan di dalam buku ini tentang pengertian jihad menurut syariat Islam.

Namun yang wajib diketahui oleh umat Islam adalah bahwa penyakit umat Islam yang sebenarnya adalah kelalaian kaum muslimin terhadap agamanya, mereka telah menyalahi syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah menyimpang jau dari agama Islam yang benar, yaitu agama yang dipahami dan dilaksanakan oleh para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga obat yang paling tepat bagi umat Islam ini adalah kembalinya mereka kepada agama Islam secara benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika kalian telah berjual beli dengan ‘Bai’ul Inah’ dan kalian telah memegang ekor-ekor sapi dan ridho dengan pekerjaan bertani serta meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu Dawud np. 3462, Baihaqi V/316 dari jalan Ibnu Umar ra lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah no. 11)

Manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam masalah jihad, tashfiyah dan tarbiyah adalah manhaj yang benar. Dalam pelaksanaannya memang membutuhkan waktu yang lama. Maka hal ini harus dilaksanakan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shaleh serta dengan penuh kesabaran. Sebab dengan ilmu, amal shaleh dan kesabaran, Allah Ta’ala akan memberikan kemenangan kepada umat Islam.

  • Jihad adalah salah satu syiar Islam yang terpenting dan merupakan puncak keagungannya.

Kedudukan jihad  dalam agama ini sangat penting dan senantiasa tetap terjaga. Jihad fi sabilillah tetap ada sampai hari Kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“….Dan puncak urusan Islam adalah jihad fi sabilillah…” (HR Ahmad V/231,236,237,245 Tirmidzi no. 2616, Ibnu Majah no. 3973)

Dari Abu Huroirah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amal-amal apa saja yang paling utama?”, Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?”, Beliau pun menjawab, “Jihad fi sabilillah”. Ditanyakan lagi, “Lalu apa?”, Beliau menjawab, “Haji mabrur”. (HR. Bukhori no. 26, 1519 Muslim no. 83 dan Ahmad II/268)

Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Amal apa yang paling utama?”, Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah dan jihad fi sabilillah”. (HR. Bukhori no. 2518 Muslim no. 84 Ahmad V/150 an-Nasa’i VI/19 dan Ibnu Hibban no. 152)

  • Definisi Jihad

Secara bahasa (etimologi) kata jihad diambil dari kata: jahada, al-Jahdu, al-Juhdu = ath-thooqotu, al-matsaqqotu, al-wus’u. Yang berarti adalah kekuatan usaha, susah payah dan kemampuan. (Lisanul Arab II/395-396, Mu’jamul Wasiith I/142)

Menurut Ar-Raghib Al-Ashfahani (w.425H) rahimahullah: al-Jahdu berarti kesulitan dan al-Juhdu berarti kemampuan. (Murodaat Alfazhil Qur’aan hal.208)

Adapun jihad diambil dari kata-kata: jaahada, yujaahidu, jihaadan.

Menurut istilah syar’i (terminologi) : “Al-Jihad artinya memerangi orang kafir, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuan, baik berupa perkataan atau perbuatan”. (Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadits I/319 Ibnu Atsir)

“Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh”.

  • Jihad terbagi menjadi tiga

  1. Jihad melawan musuh yang nyata.

  2. Jihad melawan syaithon.

  3. Jihad melawan hawa nafsu.

Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj : 78, At-Taubah : 41, Al-Anfaal : 72. (Mufrodaat Alfaazhil Qur’aan hal. 208)

Menurut Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah (w.852H): “Jihad menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir”. (Fathul Baari VI/3) 

Istilah jihad juga digunakan untuk melawan hawa nafsu, syaitan dan orang-orang fasiq. Adapaun melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama Islam (belajar dengan benar), mengamalkannya, kemudian mengajarkannya. Adapun jihad melawan syaitan dengan menolak segala bentuk syubhat dan syahwat yang selalu dihiasi oleh syaitan. Jihad melawan orang kafir dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq dengan tangan, lisan dan hati. (ibid)

Perkataan Al Hafizh Ibnu Hajar tersebut sesuai dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian”. (HR Ahmad III/124, an Nasa’i VI/7 dan Al-Hakim II/81 dari jalan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad sahih)

Makna jihad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah  adalah: “Mencurahkan segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dan menolak semua yang dibenci Allah”. (Majmu Fatawa X/192-193).

Kata beliau: “Bahwa pada hakikatnya jihad adalah mencapai (meraih) apa yang dicintai oleh Allah berupa iman dan amal shalih dan menolak apa yang dibenci oleh Allah berupa kekufuran, kefasikan, dan maksyiat”. (Ibid X/191)

Definisi ini mencakup seluruh macam jihad yang dilaksanakan oleh seorang Muslim, yaitu meliputi ketaatannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Kesungguhan mengajak (mendakwahkan) orang lain untuk melaksanakan ketaatan, yang dekat maupun jauh, Muslim atau orang kafir dan bersungguh-sungguh memerangi orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan selain itu. (Lihat al Jihaad fii Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu I/50 oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadiry cet. Darul Menarah-Jeddah 1413H)

Jihad  tidak dikatakan jihad yang sebenarnya melainkan apabila jihad itu ditujukan untuk mencari wajah Allah, menegakkan kalimat-Nya, mengibarkan panji kebenaran, menyingkirkan kebathilan, dan menyerahkan segenap jiwa raga untuk mencari keridhaan Allah. Akan tetapi bila seseorang berjihad untuk mencari dunia, maka tidak dikatakan jihad yang sebenarnya.

Barangsiapa yang berperang untuk mendapatkan kedudukan, memperoleh harta rampasan, menunjukkan keberanian, mencari ketenaran (kehebatan), maka ia tidak akan mendapatkan ganjaran dan tidak akan mendapat pahala. (Fiqush Sunnah oleh Sayyid Sabiq III/40 dan al Wajiz Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziz hal.481 oleh ‘Abdul ‘Azhim Badawi)

bersambung insya Allah……………

[Dikutip dari Kitab Kedudukan Jihad Dalam Syari’at Islam penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor cet. ke 2 1428H/April 2007]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: