"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz 

Pertanyaan:

Bagaimana hukum seorang muslim yang memberikan barang-barang berharga kepada pimpinannya dalam bekerja dengan dalih sebagai hadiah?

Jawab:

Itu merupakan kesalahan dan sarana menuju kepada kejelekan yang besar. Wajib bagi pimpinan untuk tidak menerima hadiah-hadiah  tersebut. Bisa jadi itu sebagai suap dan cara untuk melobi dan berkhianat. Kecuali bila ia mengambil untuk keperluan dan kepentingan rumah sakit, bukan untuk tujuan pribadinya, dan dengan memberitahukan hal ini kepada si pemberi dengan mengatakan kepadanya “ini nanti untuk kemaslahatan rumah sakit, saya tidak mau mengambilnya”.

Namun tindakan paling selamat untuk kehati-hatian, hendaknya ia menolak dan tidak mau menerimanya, juga tidak menerimanya untuk kepentingan rumah sakit. Sebab, hal itu akan memancingnya mengambil untuk kepentingan pribadi. Keadaan diapun menjadi rawan, mendapat prasangka buruk. Kemungkinan si pemberi hadiah akan lebih meremehkan terhadap dirinya, dan menuntut sikap yang lebih baik dari pimpinan tersebut (dengan dirinya) dari pada kepada orang lain. Karena, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendelegasikan sebagian orang untuk mengumpulkan zakat, beliau bersabda:

“Kenapa ada seorang yang kami tugaskan untuk mengumpulkan zakat, mengatakan: ‘ini untuk kalian dan ini bagianku?’, Apakah ia tidak lebih baik duduk di rumah ayah atau ibunya dan melihat apakah ia akan menerima hadiah atau tidak (seperti saat aku perintahkan ia sebagai petugas)?”. (HR Bukhori no. 6636 dan Muslim no. 1832)

Hadits ini menunjukkan, bahwa kewajiban seorang pegawai dalam pekerjaan apapun di kantor negara, hendaknya ia melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ia tidak berhak mengambil hadiah melalui cara apapun berkaitan dengan pekerjaannya tersebut. Jika ia mengambilnya, hendaklah menyerahkannya ke Baitul Mal. Dia tidak boleh mengambilnya untuk kepentingan pribadi. Sebab praktek itu merupakan sarana menuju keburukan dan mengurangi sifat amanah. Walaa haula walaa quwwata illa billah.

[Dikutip dari Fatawa Ulama al Baladi al Haram hlm. 662-663 lihat Fatawa ‘Ajilah li Mansubi ash Shihhah, hal. 44-45 – dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: