"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: Abu Asma Kholid Syamhudi

Jika di suatu masjid terdapat imam rawatibnya, maka yang lebih berhak menjadi imam adalah imam rawatib yang ditunjuk oleh penguasa atau pengurus masjid. Kalau tidak ada maka yang didahulukan ialah orang yang lebih banyak memiliki hafalan al-Qur’an dan lebih memahami hokum Islam. Apabila di kalangan para jamaah setara, maka didahulukan yang lebih pandai dan lebih mengetahui tentang sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila juga setara, maka didahulukan orang yang lebih dahulu berhijrah. Apabila sama juga, maka didahulukan yang lebih tua usianya. (Shahih Fiqh Sunnah, 1/153)

Ini semua berdasarkan beberapa hadits di bawah ini:
Hadits dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila mereka tiga orang, maka hendaklah seorang dari mereka menjadi imam sholat mereka, dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling banyak bacaan al-Qur’annya”. (HR. Muslim no. 672)

Hadits dari riwayat Abu Mas’ud al-Anshori, ia menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami:

“Hendaknya yang menjadi imam sholat suatu kaum adalah yang paling hafal al-Qur’an dan paling baik bacaannya. Apabila dalam bacaan mereka sama, maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling dahulu hijrahnya. Apabila mereka sama dalam hijrah, maka yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling tua. Janganlah kalian menjadi imam atas seseorang pada keluarga dan kekuasaannya, dan jangan juga menduduki permadani di rumahnya, kecuali ia mengizinkanmu atau dengan izinnya”. (HR. Muslim dalam Kitab al-Masaajid wa Mawadhi’ Sholat, Bab Man Ahaqqu bil Imamah, no. 1709)

Namun demikian, hal ini tidak termasuk syarat sahnya sholat berjamaah, karena seseorang diperbolehkan menjadi imam bagi orang yang lebih berhak menjadi imam darinya, sebagaimana kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau pernah sholat di belakang Abu Bakar sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata:

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit di akhir hayatnya, lalu datanglah waktu sholat dan Bilal telah mengumandangakan adzan, maka beliau berkata: “Perintahkan Abu Bakar agar mengimami sholat”, lalu ada yang berkata kepada beliau: ‘Sungguh Abu Bakar seorang yang lembut hati. Apabila menggantikan kedudukanmu, ia tidak dapat mengimami orang banyak’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi (perintahnya) dan merekapun mengulangi pernyataan tersebut, lalu beliau mengulanginya yang ketiga dan berkata: “Kalian ini seperti wanita-wanita dalam kisah Yusuf. Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang sholat”, lalu Abu Bakar berangkat dan mengimami sholat. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan sakitnya agak ringan, lalu beliau keluar dengan bersandar pada dua orang, seakan-akan aku melihat kakinya gontai (tidak mantap dalam melangkah) karena sakit. Lalu Abu Bakar ingin mundur, maka beliau memberikan isyarat untuk tetap di tempatnya kemudian mendatanginya dan duduk di sebelah Abu Bakar. (HR. Bukhori, Kitab al-Adzan no. 2641)

Hadits ini secara jelas menunjukkan bolehnya seseorang mengimami orang yang lebih berhak menjadi imam dari dirinya. Wallahu a’lam.

Siapakah yang sah menjadi Imam? 

Semua orang yang sah sholatnya, ia dapat menjadi imam atau sah menjadi imam sholat. Namun ada orang-orang yang dianggap oleh sebagian orang tidak pantas menjadi imam, padahal mereka sah menjadi imam, diantaranya:

  •  Orang buta

Orang buta memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang melihat. Dia dapat dijadikan imam dalam sholat. Hal ini berdasarkan pada hadits Mahmud bin Ar-Rabi’:

“Sesungguhnya ‘Itbaan bin Malik dahulu mengimami sholat kaumnya”. (Muttafaqun ‘alaihi)Dan pernyataan ‘Aisyah ra: “Ibnu Umi Maktum dijadikan pengganti (Rasulullah) di Madinah mengimami sholat penduduknya”. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Ya’la. Dikatakan penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah, bahwa hadits ini shahih li ghoirihi).

  • Hamba sahaya atau yang telah dimerdekakan

Keabsahannya berdasarkan kepada pernyataan Ibnu Umar yang berbunyi:

“Ketika kaum Muhajirun yang awal-awal datang ke ‘Ushbah, suatu tempat di Quba, sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menjadi imam sholat mereka adalah Saalim maula Abu Hudzaifah, dan dialah yang terbanyak hafalan al-Qur’annya”. (HR. Bukhori dalam Shahih-nya, Kitab al-Adzan Bab Imamatul al ‘Abdi wal Maula, no. 651)

  • Anak kecil yang mumayyiz.

Hal ini berdasrkan pada pernyataan Amru bin Salamah yang berbunyi:

Ketika terjadi penaklukan penduduk kota Makkah, maka setiap kaum bersegera masuk Islam dan bapak dan kaumku segera masuk Islam. Ketika datang ia berkata: “Demi Allah, aku membawa kepada kalian dari sisi Nabi sebuah kebenaran”, lalu ia berkata, “Lakukanlah sholat ini, pada waktuini, dan sholat itu pada waktu itu. Apabila datang waktu sholat, hendaklah salah seorang kalian beradzan, dan yang mengimami sholat kalian adalah yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Lalu mereka melihat dan tidak mendapati seorangpun yang lebih banyak hafalannya dariku, karena aku sering menemui orang yang datang. Maka mereka menunjukku sebagai imam sholat, padahal usiaku baru enam atau tujuh tahun. (HR. Bukhori)

  • Orang fasiq yang tidak keluar dari Islam.

Hal ini berdasarkan pada dalil naqli dan aqli, di antaranya

Keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Hendaknya yang menjadi imam sholat suatu kaum adalah yangpaling banyak hafal al-Qur’an”. (HR. Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Masaajid wa Mawadhi’ Sholat, Bab Man Ahaqqu bil Imamah, no. 1709)

Hal ini mencakup fasiq dan yang lainnya.

Kekhususan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pemimpin zhalim, yang shalat di luar waktunya:

“Shalatlah kalian pada waktunya, dan jadikanlah shalat kalian bersama mereka sebagai nafilah (sunnah)”. (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Masaajid, Bab Karahiyat Ta’khir ash-Sholat, no. 1033)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Mereka mengimami kalian sholat, apabila mereka benar, maka kalian mendapatkan pahalanya dan apabila mereka salah, kalian tetap mendapatkan pahalanya dan dosanya ditanggung oleh mereka”. (HR. Bukhori dalam Shahih-nya, Kitab al Adzan, Bab Idza lam Yutim al Imam wa Atamma man Khalfaha, no. 653)

Amalan para sahabat pada zaman al-Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, di antaranya Ibnu ‘Umar yang sholat di belakang al Hajjaj, sedangkan al Hajjaj adalah seorang yang fasiq.

Sedangkan dalil aqli dikatakan, semua sholatnya sah, mak sah juga menjadi imam. Tidak ada dalil yang membedakan antara keabsahan sholat dengan keabsahan imam. Selama ia masih sholat sebagaimana kita tidak sholat di belakangnya, karena apabila ia bermaksiat, maka maksiatnya kembali kepadanya sendiri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan: “Orang fasiq dan mubtadi’ sholatnya sah. Apabila ma’mum sholat di belakangnya, maka sholatnya tidak batal. Namun dimakruhkan oleh orang yang menganggap makruh sholat di belakangnya, karena amar ma’ruf nahi mungkar wajib. Oleh karena itu orang yang menampakkan bid’ah atau kefajiran, ia tidak boleh menjadi imam rawatib bagi kaum muslimin, karena ia pantas diberi pelajaran hingga bertaubat. Apabila memungkinkan, boleh memboikotnya hingga ia bertaubat, maka hal itu lebih baik. Apabila sebagian orang tertentu tidak sholat di belakangnya dan sholat di belakang orang lain memiliki pengaruh hingga ia bertaubat, atau dipecat, atau orang-orang berhenti melakukan dosa sepertinya, maka yang seperti ini baik, apabila meninggalkan sholat di belakangnya memiliki maslahat dan tidak kehilangan jamaah dan Jum’at. Adapun bila tidak sholat di belakangnya menyebabkan ma’mum kehilangan Jum’at dan jamaah, maka di sini tidak meninggalkan sholat di belakang mereka, kecuali mubtadi’ yang menyelisihi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Majmu Fatawa, 23/354)

Demikianlah yang dirajihkan Syaikh Ibnu Utsaimin ketika menyatakan, bahwa pendapat yang rajih adalah sah sholat di belakang orang fasiq. Sehingga apabila seorang shalat di belakang imam yang mencukur jenggot atau merokok atau memakan riba atau pezina atau pencuri, maka sholatnya tetap sah. (Syarhul Mumti’, 4/308)

  • Orang yang belum diketahui apakah fasiq ataukah tidak.

Dalam permasalahan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seseorang diperbolehkan melakukan sholat lima waktu dan jum’at serta yang lainnya, di belakang orang yang belum diketahui kebid’ahan dan kefasikannya, menurut kesepakatan imam fiqih yang empat dan selain mereka dari imam-imam kaum muslimin. Bukan menjadi syarat bagi seorang ma’mum harus mengetahui I’tiqod (keyakinan) imamnya, dan tidak pula mengujinya hingga menanyakan ‘apa yang engkau yakini?’ “. (Majmu Fatawa, 23/351)

Dengan demikian apabila sah sholat di belakang orang fasiq, maka sholat di belakang orang yang belum jelas kefasikannya lebih pantas untuk disahkan.

  • Wanita menjadi imam untuk kaum wanita.

Hal ini dilakukan sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya ‘Aisyah dan Ummu Salamah, dan tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkarinya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: