"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin

Pernikahan mendatangkan pahala, balasan baik, melalui pemenuhan hak-hak istri dan anak serta menafkahi mereka. Perkawinan merupakan factor yang mendatangkan kecukupan dan berlimpahnya rizki. Anggapan ini tidak seperti orang-orang yang berorientasi dunia dan lemah dalam bertawakal. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka mampu dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. an Nur [24] : 32)

Dalam sebuah hadits disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tiga golongan, Allah pantas menolong mereka. (Diantaranya) seseorang yang menikah untuk menjaga kehormatan dirinya”.

Abu Bakar berkata, “Taatilah Allah dalam perintah-Nya kepada kalian dalam hal pernikahan, niscaya Allah akan memenuhi janji bagi kalian berupa kecukupan”.

Ibnu Abbas berkata, “Allah menghimbau mereka untuk menikah dan menjanjikan bagi mereka kecukupan. Allah berfirman, ‘Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka mampu dengan karunia-Nya’.”

Pernikahan merupakan sarana perbaikan bagi individu dan masyarakat, agama, ahlak, masa sekarang dan masa depan. Selain itu, pernikahan mampu melenyapkan kerusakan-kerusakan yang timbul akibat meninggalkan pernikahan dan sikap acuh tak acuh terhadapnya.

Salah satu hambatan penting untuk melaksanakan pernikahan, yaitu keengganan sebagai pemuda, lelaki dan perempuan untuk menikah. Mereka enggan menikah dengan dalih, pernikahan akan mengganggu pendidikan. Ini adalah argumentasi lemah.

Sesungguhnya, pernikahan tidak menghalangi dalam melanjutkan pendidikan dan kelulusan dan proses penggalian ilmu. Bahkan pernikahan menjadi pendukung untuk mencapai kesuksesan di dalamnya.

Seorang lelaki yang shalih bila dianugerahi wanita shalihah, dan atmosfir kasih saying menaungi mereka, maka masing-masing akan membantu pasangannya dalam pendidikan dan dalam menghadapi problem kehidupan. Banyak orang yang istrinya mendapatkan naungan taufik dari Allah. Walillahil hamd

Berapa banyak generasi muda, lelaki dan perempuan, ditakdirkan Allah menjalani pernikahan, sehingga mereka pun mendapatkan ketenangan psikologis, pikiran dan jiwanya menjadi tenang dalam menjalani studi, yang menciptakan iklim kondusif bagi mereka dalam studi.

Maka, kewajiban para pemuda yang tepaku dengan alasan di atas, hendaknya mempertimbangkan kembali untuk sekian kalinya, agar mereka mengoreksi kesalahan (dengan menunda pernikahan karena alasan studi). Bertanyalah kepada kawan-kawan yang telah menikah. Mereka telah mendapatkan kebaikan dan ketenangan melalui pernikahan. Dengan demikian permasalahan di atas menjadi tuntas.

(Adh Dhiya’ al Lami’ 3/56, Cetakan Jamiah al Islamiyah Madinah. Thn 1423H diambil dari Baituna Edisi 05/Tahun X/1427H/2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: