"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Hadits merupakan sumber hukum di dalam Islam setelah Al-Qur’an yang kedudukannya tetap dipandang sebagai sebuah wahyu ilahi. Dengan hadits kita dapat menjelaskan dalil-dalil yang bersifat umum di dalam Al-Qur’an atau di dalam hadits yang lainnya. Sehingga dengan mempelajari dan meneliti suatu hadits berarti kita sedang melakukan penelusuran secara ilmiah guna menentukan hukum suatu perkara yang belum dapat ditentukan secara spesifik oleh Al-Qur’an. Untuk mempelajari suatu hadits maka seseorang perlu mengenyam ilmunya yaitu Mustholahul Hadits. Di dalam ilmu hadits ini banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil diantaranya adalah dapat mengetahui derajat suatu hadits ditinjau dari jalur periwayatan (sanad) melalui studi kritik terhadap seseorang yang meriwayatkannya.

Oleh karenanya di dalam artikel ini kami cantumkan takhrij hadits terhadap hadits-hadits yang terdapat di dalam kitab sunan yang kami ambil dari sebuah buku yang berjudul: Hadits Palsu Dalam Kitab Empat Sunan. Namun khusus untuk Kitab Sunan An-Nasa’i sepertinya tidak ditemukan hadits yang palsu. Maka kami hanya menyajikan beberapa hadits dari Kitab Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah

Hadits Riwayat Abu Daud no. 5081

Telah bercerita kepada kami Yazid bin Muhammad ad-Dimasyqi. Telah bercerita kepada kami Abdurrazzaq bin Muslim ad-Dimasyqi, dan ia termasuk ahli ibadah kepercayaan kaum muslimin, ia berkata: ‘Telah bercerita kepada kami Mudrik bin Sa’ad – Yazid berkata: ‘Ia (Mudrik bin Sa’ad) adalah syaikh yang tsiqoh (terpercaya)- dari Yunus bin Maisarah bin Halbas dari Ummi ad Darda’ dari Abi ad-Darda’ ra berkata:

“Barangsiapa yang membaca di waktu pagi dan sore: Hasbiyallahu laailaaha illa huwal’arsyil’adziim (Cukuplah Allah sebagai penolong tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, kepada-Nya aku bertawakal dan Dia pemilik ‘Arsy Yang Maha Agung) sebanyak tujuh kali maka Allah akan mencukupi kebutuhannya, apakah ia membacanya dengan percaya atau tidak.

Syaikh Al Albani berkata dalam “Dhaif Sunan Abi Daud“: (Hadits ini Maudhu’ad Dhaifah– 5286)

Hadits Riwayat Abu Daud no. 5273

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris, telah bercerita kepada kami Abu Qutaibah Silmun bin Qutaibah dari Daud bin Abi Shalih al-Mazini dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki berjalan di antara dua wanita”.

Al-Albani berkata dalam “ad-Dhaifah” no. 375 hadits tersebut adalah Maudhu’ (palsu). Dikeluarkan oleh Abu Daud (2/352), dan al-‘Aqiili dalam “ad-Dhu’afaa” (126), dan Al-Hakim (4/280), dan Al-Khallaal dalam “al-Amru Bil Ma’ruuf” (22/2), dan Ibnu ‘Adi (3/955) dari jalan aud bin Abi Shalih dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’. Dan al-Hakim berkata: “Sanadnya shahih” dan adz-Dzahabi mengkritiknya dengan mengatakan: Saya berkata: Ibnu Hibban berkata tentang Daud bin Abi Shalih: Dia (Daud bin Abi Shalih) meriwayatkan hadits-hadits palsu.

Al-Albani mengatakan: “Demikianlah adz-Dzahabi berkata dalam “al-Mizaan”, kemudian menyebutkan pada akhir hadits ini dan al-Mundziri menyebutkannya dalam “Mukhtashar as-Sunan” (8/118) dan Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang yang tsiqoh hingga seakan-akan ia sudah terbiasa dan menyebutkan hadits tersebut”.

Abu Zur’ah mengatakan: “Aku tidak mengenalnya kecuali dengan hadits ini, dan ia adalah munkar”.

Al-Albani mengatakan: “Imam Bukhari menyebutkan hadits tersebut dalam “at-Tariikhu as-Shaghiir” (187) lalu berkata: Ia tidak diikuti haditsnya”.

Al-Aqiili berkomentar sebagaimana Imam Bukhari dengan menambah: “Daud bin Abi Shalih tidak dikenal, kecuali dengan hadits palsu tersebut”.

Abdul Haq sependapat dengan Al-Aqiili sebagaimana yang tercantum dalam “al-Ahkaam” (205/1) dan berkata: “Daud bin Abi Shalih punya redaksi lain dalam masalah tesebut; ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila dua  orang perempuan menghadapmu maka janganlah engkau melintasi antara keduanya, ambillah sebelah kanan atau sebelah kiri”.

Hadits tersebut disampaikan oleh Abu Ahmad bin Adi.

Al-Albani mengatakan: Abu Ahmad bin ‘Adi mengeluarkan hadits tersebut dari jalan Yusuf bin Al-Gharqi dari Daud bin Abi Shalih. Dan Yusuf termasuk pendusta sebagaimana penjelasan yang lalu pada nomor (193).

Hadits tersebut juga terdapat dalam “Dhaif al-Jaami'” dengan no. (6040)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: