"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh : Abu Hasan Budi Aribowo

Imam Al Barbahary rahimahullah (wafat 392 H) berkata, “Jika anda melihat orang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun bila anda melihat orang mendoakan kebaikan kepada kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk golongan ahlus sunnah, insya Allah” (Syarhus Sunnah, hal. 84)

Seorang tabi’in Abu Ali Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Jikalau aku mempunyai doa yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin”, lalu ia ditanya, “Wahai Abu Ali jelaskan maksud ucapanmu tersebut ?”, beliau berkata, “Bila doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya” (HR. Abu Nu’aim dalam al Hilyah 8/91, dikeluarkan juga oleh al Khallal dalam as Sunnah, lihat pula Syarhus Sunnah hal. 84-85)

Demikianlah sikap para salafush shalih terhadap pemimpinnya yaitu senantiasa mendoakan kebaikan buat para pemimpinnya sekalipun mereka adalah pemimpin yang zhalim. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

“Barangsiapa yang memuliakan penguasa di dunia, akan dimuliakan Allah di akhirat, dan barangsiapa yang menghinakan penguasa di dunia, maka Allah hinakan dia pada hari kiamat” (HR. Ahmad V/42, dari jalur sahabat Nufai’ bin al Harits radhiyallaHu ‘anHu, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah V/375-376)

Imam Ibnu ‘Ashim rahimahullaH mengatakan, “Apa-apa yang diriwayatkan dari Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam yang memerintahkan untuk memuliakan penguasa dan melarang keras untuk menghinakannya” (as Sunnah libni Abi ‘Ashim II/475-476, lihat Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah, hal. 379)

Menjelek-jelekan penguasa, membeberkan aibnya, menyebutkan kekurangannya, menampakkan kebencian kepadanya di hadapan umum (seperti demonstrasi) atau melalui media lainnya dan mengadakan provokasi, maka hal tersebut bukan cara yang benar. Bahkan cara ini menyalahi petunjuk Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, berdosa karena menyalahi sunnah, menimbulkan kerusakan dan bahaya yang lebih besar serta tidak ada manfaatnya.

Jika seorang muslim mengetahui ada kekurangan dan keburukan penguasanya maka hendaklah ia menasehatinya dengan cara yang ma’ruf dan tidak melakukannya di muka umum, karena memang demikianlah sunnahnya. Dari ‘Iyadh bin Ghunm radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

”Barang siapa hendak menasehati penguasa maka janganlah secara terang – terangan, melainkan ambil tangannya dan berdua dengannya. Apabila ia menerimanya maka itu adalah untukmu, kecuali apabila ia enggan maka apa yang ada padanya adalah baginya sendiri” (HR Ahmad III/403-404, Al Hakim III/290, Al Baihaqi dan lainnya, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Kitab Adz Dzilal)

Sehingga demikian sahabat Usamah bin Zaid radhiyallaHu ‘anHu ketika menasehati Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallaHu ‘anHu, ia melakukannya dengan cara diam–diam sebagaimana atsar sahabat berikut ini,

Dari Ubaidilah bin Khiyar berkata, “Aku mendatangi Usamah bin Zaid dan aku katakan kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak menasehati Utsman bin Affan ra. untuk menegakan hukum had atas Al Walid ?’. Maka Usamah bin Zaid menjawab, ‘Apakah kamu mengira aku tidak menasehatinya kecuali harus dihadapanmu ? demi Allah, sungguh aku telah menasehatinya secara sembunyi–sembunyi antara aku dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah orang yang pertama kali membukanya” (HR. al Bukhari dan Muslim)

Atau jika ia tidak mampu untuk menasehatinya serta membenci perbuatannya maka cukuplah kebencianya terhadap penguasa muslim hanya dia dan Allah Ta’ala saja yang tahu, tanpa harus membeberkannya di muka umum. Dari Ummu Salamah radhiyallaHu ‘anHa, Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

“InnaHu yusta’malu ‘alaikum umaara-u, fata’rifuuna wa tunkiruuna, fa man kariHa faqad bari-a, wa man Ankara faqad salima, walakin man radhiya wataaba’a”

yang artinya,

“Sesungguhnya akan diangkat penguasa di kalanganmu, yang kalian mengenalinya dan mengingkarinya. Barangsiapa yang membencinya maka sungguh ia telah berlepas diri, dan barangsiapa yang ingkar maka ia telah selamat. Tetapi lain halnya bagi yang ridha dan mengikutinya”

Kemudian para sahabat bertanya,

“Yaa rasulallaHi, afalaa nuqaatiluHum ?” yang artinya “Ya Rasulullah, apakah boleh kami memerangi mereka ?”

Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam menjawab,

“Laa, maa shallaw” yang artinya “Jangan, selama mereka masih mengerjakan shalat” (HR. Imam Muslim, hadits no. 1229 pada Ringkasan Shahih Muslim oleh Syaikh al Albani)

Sumber Bacaan :

Hukum Memberontak Kepada Penguasa Muslim, Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslan, Pustaka Al Atsari, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Tsaniyah 1424 H/Agustus 2003 M.

Ringkasan Shahih Muslim, Syaikh al Albani, Gema Insani, Jakarta, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1425 H/Januari 2005 M.

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At Taqwa, Bogor, Cetakan Kedua, Jumadil Akhir 1425 H/Agustus 2004 M.

Syarhus Sunnah, Imam al Barbahary, Pustaka Imam adz Dzahabi, Bekasi Timur, Cetakan Pertama, Sya’ban 1427 H/September 2006 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: