"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Sesungguhnya Allah telah menciptakan lalu berfirman: “Menghadaplah”, lalu akal menghadap. Kemudian Dia berfirman: “Berpalinglah”, lalu akal berpaling. Kemudian Dia berfirman: “Siapa kamu dan siapa Aku?”, Akal menjawab Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu yang lemah. Lalu Allah ta’ala berfirman: “Wahai akal Aku tidak menciptakan mahluk yang lebih mulia darimu.”. Kemudian Allah ta’ala menciptakan jiwa. Lalu Allah berfirman: “Menghadaplah”, namun jiwa tidak menjawabnya. Kemudian Dia berfirman: “Siapa kamu dan siapa Aku?”. Jiwa menjawab: “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau”. Lalu Allah ta’ala menyiksanya di neraka Jahannam selama seratus tahun, kemudian Dia mengeluarkannya lalu bertanya: “Siapa kamu dan siapa Aku?”. Lalu jiwa menjawab seperti jawaban pertama, kemudian Allah ta’ala memasukkannya ke dalam neraka yang penuh dengan kelaparan selama seratus tahun. Lalu Dia bertanya kepadanya, maka jiwa mengakui bahwa dia adalah hamba dan Allah adalah Tuhannya. Lalu Allah ta’ala mewajibkan kepadanya untuk berpuasa disebabkan hal itu.

Takhrij Hadits:

Hadits ini tidak dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh al-Kubawi beliau hanya menyebutkan dengan lafazh yang berartikan dhaif (روى فى) akan tetapi ia memiliki makna marfu’ atau dalam istilah ilmu hadits disebut ( لم حكم الرفع), makna hadits ini banyak disebutkan dalam kitab seperti yang akan diterangkan.

Hadits ini telah diriwayatkan oleh Daud Ibnu al Muhabbar dalam Kitab al-Aql seperti diisyaratkan oleh al-Sakhawi (Dalam al-Maqoshid al Hasanah hlm. 118 hadits no. 223)

Hukum Hadits: Maudhu’ (Palsu)

Hampir semua ulama hadits telah menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, antara lain: Ibnu Hibban, Al-Uqaili, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim, Adz-Dzahabi, Al-Zarkasyi, Ibnu Thahir al-Maqdisi, Ibnu ‘Arraq dan zhahir dari perkataan Al-Sakhawi. Sebab palsunya adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah bahwa maknanya bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam. Sebab kedua seperti yang dikatakan Al-Sakhawi bahwa Daud Ibnu al Muhabbar adalah pendusta menurut ahli hadits. (Ibnu Taimiyyah, dalam Ahadits al-Qushshash, Tahqiq Muh Luthfi al-Shabagh, al Maktabah al Islami, Beirut 1985 hlm. 57 hadits no. 6)

Akan tetapi As-Suyuti menolak untuk dikatakan bahwa hadits ini palsu, meskipun beliau tidak menolak untuk mengatakan bahwa hadits ini amat dhaif. Sebab menurutnya hadits ini telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Zawaid al-Musnad karangan bapaknya Ahmad bin Hanbal, dengan cara mursal, akan tetapi sanadnya baik dan hadits ini diriwayatkan secara musnad (bersambung) oleh At-Thabarani di dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath dengan sanad yang lemah. (As-Suyuti, al-La’ali jilid 1 hlm. 130)

Pendapat penulis kitab takhrij hadits-hadits di kitab Duratun Nashihin (Dr. Luthfi Fathullah MA) adalah beliau mengatkan lebih tepatnya hadits tersebut dihukumi sebagai hadits maudhu’ (palsu) karena sebab matannya bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam yang tidak bisa dikuatkan dengan sanad yang dhoif.

[Disalin dari Kitab Hadits-Hadits Dhaif dan Palsu dalam Kitab Duratun Nashihin, penulis Dr. Luthfi Fathullah MA, cet. Darus Sunnah tahun 2004, Editor Farid Ahmad Oqbah MA]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: