"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Tersingkapnya benteng fitnah dengan wafatnya Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu merupakan awal masuknya musibah dan fitnah besar yang melanda kaum muslimin setelah masa beliau berlalu. Tak jarang sikap berlebihan sebagian kaum muslimin dalam menyikapi pertikaian demi pertikaian yang dialami para sahabat radhiyallahu ‘anhum dianggap sebagai hal yang lumrah dan bersifat kritik historis

Namun tanpa disadari sejarah yang mereka yakini sebagai kebenaran absolut menuai kritik balik yang cukup pedas dari para imam ahlu sunnah wal jama’ah. Bahkan para imam sangat tegas menolak segala bentuk penistaan terhadap seorang pun dari sahabat, menghinanya atau merendahkannya dari golongan manapun dan siapapun sahabat tersebut karena mereka merupakan sahabat yang memiliki banyak keutamaan yang tidak akan bisa ditandingi oleh generasi setelahnya dan begitu banyak  mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Seperti yang telah mahfum bahwa salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kerap menjadi sasaran sikap sebagian golongan ekstrim rafidhah adalah Muawiyah bin Abi Sofyan radhiyallahu ‘anhuma karena pertikaiannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sikap ekstrem rafidhah terhadapnya dimunculkan oleh kekeliruan fatalnya dalam mensikapi fenomena perselisihan di antara mereka yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengakibatkan jatuhnya nilai dan martabat seorang  sahabat untuk bisa dihakimi dan dihina dengan seenaknya. Justru dengan sikap mereka (rafidhah) itulah sebenarnya berbalik mengakibatkan  tersebarnya fitnah terhadap salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dan ironisnya sering mendapatkan sambutan positif dikalangan umat islam awam yang tidak memahami sejarah dan ilmu yang memadai. Sehingga mereka kerap menyangka apa yang rafidhah katakan adalah benar dan perlu mendapat dukungan.

Bagaimana seharusnya sikap seorang muslim ahlu sunnah wal jama’ah dalam menyikapi fenomena perselisihan sahabat? apakah dengan sikap mencela sahabat yang dianggap pantas disalahkan ataukah bersikap bijaksana dan tawaquf? lalu siapakah yang sepatutnya dicontoh oleh kita dalam menyikapi sahabat radhiyallahu ‘anhum?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ta’ala di dalam Majmu Fatawa kitab Mujmal I’tiqod Salaf  berkata dalam sebuah bab:

“Diantara landasan ahlu sunnah wal jama’ah adalah selamatnya perkataan dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana telah Allah terangkan keadaan mereka di dalam firman-Nya:

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami rasa dengki kepada mereka yang telah beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang’. (Al-Hasyr : 10)

Ahlu sunnah taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Janganlah kalian menghina sahabatku, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian menginfakan hartanya sebesar gunung uhud niscaya tidak akan bisa menyamai satu mud dari mereka dan tidak juga setengahnya”. “

Beginilah sikap mulia seorang ahlu sunnah yang wajib dikedepankan dalam menyikapi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selalu mengutamakan landasan syar’i Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentaati serta mengamalkan keduanya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya dari jalan Ummu Haram bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pasukan pertama dari umatku yang berperang mengarungi lautan telah dipastikan bagi mereka (yakni masuk surga)”. (Bukhari no. 2924)

Dalam pertempuran tersebut Muawiyah-lah yang menjadi panglimanya dan pasukan tersebut dipimpin oleh putra beliau Yazid bin Muawiyah.

Dan dalam riwayat lainnya Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits serupa melalu jalan Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Annas bin Malik dari bibinya Ummu Haram binti Milhan berkata:

“Pada suatu hari Rasulullah tidur dekat dariku kemudian beliau terbangun, lalu tersenyum. Aku bertanya: Apa gerangan yang membuatmu tersenyum?”

Beliau menjawab: “Telah ditampakkan kepadaku beberapa orang dari umatku yang mengarungi samudera biru ini. Laksana para raja di atas singgasananya”.

“Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka!” pinta Ummu Haram, lalu Rasulullah mendoakannya. Kemudian beliau tidur lagi dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Lalu Ummu Haram bertanya seperti di atas dan Rasulullah menjawab seperti jawaban sebelumnya. Ummu Haram berkata: ‘Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka!’. Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk golongan pertama dari angkatan laut tersebut”.

Kemudian Ummu Haram keluar berperang mendampingi suaminya yaitu Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu bersama pasukan angkatan laut yang pertama kali diberangkatkan dibawah kepemimpinan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. Sekembalinya dari peperangan tersebut mereka singgah di Syam. Lalu diserahkan kepadanya seekor kuda tunggangan. Kuda tunggangan tersebut membuatnya terjatuh hingga ia meninggal. (Bukhari no. 2799 dan Muslim no. 1912)

Demikianlah keutamaan Muawiyah yang  disebutkan dalam dua buah hadits dan masih banyak lagi keutamaan beliau untuk kita sebutkan disini. Diantaranya dia pun mendapat persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penulisnya sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dalam Shahih Muslim ketika Abi Sufyan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Muawiyah aku angkat sebagai penulismu. Rasulullah menjawab, “Ya!”. (Muslim no. 2501 dan Musnad Ahmad I/291)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam al-Musnad-nya dari Abdurrahman bin Abi Umairah al-Azdi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah menyebut Muawiyah dan berkata: “Ya Allah. Jadikanlah ia orang yang menuntun kepada hidayah dan berilah ia hidayah”.(Al-Musnad Ahmad bin Hanbal, IV/216; Tirmidzi, 3842; Al Ajurri, 1915; Al-Bukhari dalam at-Tarikh, V/240)

Demikian pula sikap mulia ditunjukkan oleh para imam dan ulama ahlu sunnah wal jama’ah dalam memberikan pujian kepadanya dan sikap keras mereka terhadap orang yang membenci dan mencaci Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, di antaranya:

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah, ia berkata: “Belum pernah aku melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seorang pun, kecuali seseorang yang mencaci Muawiyah. Beliau mencambuknya dengan beberapa kali cambukan”. (Tarikh Dimasyqi, 59/211 dan Bidayah wa Nihayah, VIII/139)[/i]

Al Khallal meriwayatkan dari jalur Abdul Malik bin Maimuni, dari Abu Salamah dari Abdullah bin Al Mubarak, dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: ” Saya telah mendengar Abdullah bin Abbas ra berkata,”Belum saya dapati orang yang lebih ahli dalam mengatur negara selain Muawiyah ra. Orang-orang mendatanginya dengan perasaan senang tanpa merasa sempit, tertekan, gelisah ataupun marah”.(As-Sunnah Al Khallal, 677 dan Tarikh Dimasyqi Ibnu Asakir, 59/175)

Kemudian dari jalan Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Belum pernah aku melihat orang yang pintar memimpin setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Muawiyah ra, “aku pun bertanya, “Apakah ia lebih pintar memimpin dari pada Abu Bakar ra?” Ibnu Umar ra menjawab, “Abu Bakar ra lebih baik dari pada Muawiyah ra”. “Apakah ia lebih pintar memimpin dari pada Utsman ra?” tanyaku lagi. Ibnu Umar ra menjawab, “Semoga Allah merahmati Utsman ra, beliau lebih baik dari pada Muawiyah ra, akan tetapi Muawiyah lebih pintar memimpin dari pada Utsman ra”. (As-Sunnah Al-Khallal, 10679; Ibnu Adi dalm Al-Kamil, VI/110; dan Tarikh Dimasyqi Ibnu Asakir, 59/175 dengan sanad shahih)

Al-Khathib meriwayatkan dalam kitabnya, dari jalur Ustman bin Sa’id, ia berkata: “Saya mendengar ar-Rabi bin Nafi’ berkata: “Muawiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Siapa saja yang berani menyingkap tirai itu, maka ia akan berani menjamah apa saja yang ada dibaliknya”.(Tarikh Baghdad Al-Khathib Al-Baghdadi, I/223)

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh seorang lelaki: “Saya mempunyai paman, yang menurut berita ia merendahkan Muawiyah ra. Kadangkala aku makan bersamanya”. Abu Abdillah (Imam Ahmad) segera memotong,”Jangan makan bersamanya!”.(As-Sunnah Al-Khallal, 693)

Ibnu Asakir meriwayatkan dari al Fadhl bin Ziyad, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdillah ditanya tentang seseorang yang merendahkan Muawiyah dan Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, apakah boleh ia dikatakan sebagai rafidhi (pengikut paham rafidhah)?. Dia berkata, “Sungguh hanya orang yang menyimpan i’tikad buruk sajalah yang berani mencela keduanya. Sungguh, hanya orang yang menyimpan i’tikad buruk sajalah yang mau membenci salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“. (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyqi 59/210, Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah VIII/139)

Demikianlah sikap tegas para imam dan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menilai dan membaca sejarah seorang Muawiyah yang tidak berbicara melalui hawa nafsunya namun dengan wawasan dan kedalaman ilmu dan pemahaman Islam yang shahih jauh dari pemikiran dan kepentingan pribadi dan kelompok.

Sumber penulisan:

Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M

Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: