"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

oleh: Abu Fatih Muhammad Haris Asy-Syirbuni

Bismillahirrahmanirrahiim

Ada sekelumit pengalaman menarik yang saya alami suatu hari. Pagi itu selepas kembali dari sholat subuh berjama’ah pada suatu hari di bulan yang mulia Ramadhon 1428H (tanggalnya lupa nih) seperti biasa saya tidak langsung membuka pintu rumah namun menyempatkan diri duduk di halaman depan rumah tepatnya di luar pagar rumah menghadap jalan. Apa yang biasa saya lakukan adalah menengok ke atas langit hanya sekedar mencari posisi bulan, sebagai penentu waktu kalender hijriah. Karena saat itu kebetulan posisi bulan sangat mudah dilihat berada persis di atas berdirinya saya atau kemiringan lima derajat ke arah timur karena rumah saya kebetulan menghadap ke arah timur laut jadi tidak ada halangan yang berarti untuk dapat melihatnya.

Dan secara kebetulan juga (mungkin kebiasaan lebih tepatnya ya…) salah satu ormas islam di negeri ini sudah menyatakan akan berbeda hari raya untuk tahun 1428H ini. Sehingga rasa penasaran untuk mengamati bulan semakin lengkap. Bulan saat itu sangat cerah cahayanya namun bukan lagi purnama tetapi telah bergeser menuju bulan baru.

Ketika asyik mengamati bulan dan sesekali mengalihkan pandangan ke sekitar rumah tetangga dan jalan yang tampak masih serba lengang dari kebisingan kendaraan dan suara manusia yang beraktivitas ditambah lagi dengan kesejukan udara pagi yang masih sangat segar saya dikejutkan dengan lewatnya seorang ibu muda pedagang sayur mayur dengan gerobak becaknya yang di-design khusus untuk membawa barang dagangan. Ibu muda itu mengayuh becaknya sambil membonceng anak laki-lakinya yang masih berusia sekitar 5 tahun yang duduk di atas roda belakang yang hanya beralaskan tempat duduk yang tebuat dari kayu.

Ketika melintas di depan saya terdengar suara sang ibu kepada anak laki-lakinya tersebut, “Semua orang Islam di mana saja berpuasa..” seraya mengayuh gerobak becak sayurannya. Tidak lama setelah sang ibu berkata demikian si bocah laki kecil itu balik bertanya dengan pertanyaan polosnya, “Memang Allah juga puasa ya?”. Dan pertanyaan ini pula yang menutup dialog pagi antara mereka berdua karena seiring dengan berlalunya gerobak becak sayur tersebut suara mereka pun hilang ditelan udara pagi yang mulai terasa hangat dengan menyeruaknya sinar matahari kemerahan.

Hari beranjak siang dan saya bergegas masuk ke dalam rumah menyiapkan segala sesuatu untuk berangkat kerja…maklum saya ini kuli alias karyawan swasta. Dialog yang baru saja terekam di dalam benak saya seperti sebuah film yang berputar berulang kali hingga menimbulkan kesan tersendiri untuk diri ini. Apa gerangan hikmah dari pengalaman pagi tersebut. Sejenak saya merenung dan memulai berfikir mengenai ucapan sang ibu terhadap anak laki-lakinya dan pertanyaan balik dari sang anak tersebut kepada ibunya. Sepintas petuah ibu dan pertanyaan si anak tersebut terkesan common question in the common place. Tapi apakah sesederhana ini? padahal saya telah dibuat terkesan dengan dialog singkat mereka. Ah…akhirnya saya putuskan untuk tidak berfikir panjang dalam mencari jawabannya saat berbagai pertanyaan terlintas di otak ini gara-gara kisah dua orang manusia pagi hari itu. Saya langsung berangkat kerja tanpa pikir panjang pagi itu karena jam sudah menunjukkan setengah delapan pagi.

Ada satu hal yang menarik yang tergambar dalam fragmen singkat tersebut. Apa itu? yaitu kejadiannya di pagi buta yang saya yakin tidak semua orang bisa meluangkan waktu dan hadir pada waktu pagi buta seperti itu kalau bukan karena ingin menunaikan sholat subuh di masjid atau para pemulung yang mengais rejeki di sela-sela rumah yang satu dan rumah yang lain, dari tong sampah satu ke tong sampah yang lain atau petugas jaga yang sedang berkeliling. Sungguh pagi itu ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Pemandangan yang jarang terjadi, kalaupun ada namun konteks pembicaraannya tidak akan sereligius dialog antara sang ibu dan si bocah kecil tadi. Umumnya seorang anak kecil akan merengek meminta uang jajan atau minta dibelikan mainan baru apalagi harus rela bangun pagi mengantar sang ibu menunaikan tugasnya. Sungguh sangat berat untuk ukuran anak sekecil itu, namun itulah yang terjadi. Hikmah ini yang belum saya dapati hingga saya harus melupakan sejenak kejadian pagi hari itu untuk memulai konsentrasi pada pekerjaan kantor.

Siang harinya ketika jam istirahat saya menyempatkan mampir ke masjid dekat kantor saya untuk menunaikan sholat dzuhur. Dengan berjalan kaki saya menyeberang jalan dan menyusuri jalan ke arah masjid. Tidak berapa lama saya menjumpai sekelompok anak muda yang rupanya karyawan pabrik yang sedang asyik ngobrol dengan sepiring makanan di tangannya. Ada yang sedang berdiri merokok, ada yang jongkok makan gorengan dan minum segelas es, ada yang sedang berbicara berdua sambil menunggu makanan pesanannya. Dan di dekat mereka seorang ibu paruh baya sedang melayani makan sekelompok anak muda tersebut dengan bakul nasi usangnya digeletakkan di tanah dan disembunyikan dari pandangan manusia.

Nah yang menarik dari fenomena siang itu sebenarnya bukan karena usangnya bakul nasi, atau anak muda yang enggan berpuasa atau demonstratifnya seorang dari mereka yang merokok sambil berdiri tanpa malu-malu dan enggan menghormati mereka yang masih berpuasa. Bukan itu! Karena fenomena itu sudah tidak susah untuk ditemui di mana pun di negeri ini betapapun ancaman sang Khalik sangat pedih bagi mereka yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa udzur syar’i, betapa ironisnya!.

Justeru yang membuat saya tertarik dan sekaligus merisaukan hati ini adalah dua orang dari mereka yang sedang ngobrol sambil menunggu makanan siap. Ketika saya lewat di dekat mereka salah seorang dari mereka kepada teman disampingnya bertanya, “Puasa kapan selesainya ya?”. Kontan saya tersentak dengan pertanyaan datar tersebut. Hati ini ingin menangis dan badan ini terasa merinding, sedih bercampur heran. Belum selesai memikirkan latar belakang pertanyaan ini saya di dibuat terkaget-kaget lagi dengan jawaban dari teman si penanya yang duduk di sampingnya yang dengan datar pula menjawab, “Wah… masih lama”. Ada apa sebenarnya dengan mereka ini dalam hati saya bertanya. Bukankah mereka muslim, yang mengetahui bahwa saat ini adalah bulan yang paling mulia yang Allah janjikan bahwa Dia-lah yang akan membalas langsung pahala puasa orang yang berpuasa dengan balasan yang sangat besar. Atau malah mereka justru keberatan bulan mulia ini mampir selama sebulan penuh sehingga menggangu jadwal makan dan minum mereka serta aktivitas mereka yang lain? Na’udzubillahi min dzalik!!

Tak terasa kaki ini sudah menginjak halaman masjid, dan tak lama kemudian sholat ditegakkan. Selesai sholat dalam perjalanan pulang dari masjid menuju kantor saya mulai mengkaitkan peristiwa pagi buta tadi dengan yang barusan saja terjadi. Kedua-duanya terjadi di depan mata dan terdengar jelas melalui kedua telinga ini. Ternyata peristiwa kedua di siang hari itu merupakan jawaban atas peristiwa yang mendahuluinya di pagi buta tadi. Apa hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil dari dua peristiwa yang Allah tampakkan ini kepada saya. Saya pun akhirnya berusaha menyimpulkan dengan kesimpulan sederhana:

  • Bahwa madrasah ilmu terbaik bagi manusia adalah sosok ibu, walupun dengan tidak mengurangi peran dan kontribusi seorang bapak dalam mentarbiyah seorang anak. Bagaimana seorang Imam Asy-Syafi’i harus berjuang mencari ilmu tanpa kehadiran sang ayah yang mendampinginya namun hanya mengandalkan tangan seorang ibu, walaupun isi kepala sang ayah telah berpindah kepada sang ibu.

Pengenalan ibadah puasa hendaknya dimulai sejak usia dini dengan sistem pelatihan berjenjang sesuai dengan kemampuan si anak. Sehingga si anak akan terus mengingat masa lalunya ketika ia memulai puasa dengan bimbingan kedua orang tuanya. Namun tentunya bimbingan ini tidak berhenti sampai disini saja melainkan harus berkesinambungan dengan mengenalkan anak akan sanksi dan ancaman dari Allah bagi yang tidak berpuasa.

  • Nasihat seorang ibu kepada anak lebih memiliki nilai atau bobot yang efektif dalam mengarahkan si anak kepada jalan yang diridhoi Allah ta’ala karena kedekatan keduanya telah dibina sejak si anak masih di dalam rahim sang ibu.

Pengaruh lingkungan dan pergaulan jaman sekarang tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang remeh dan enteng. Banyak dari anak muda yang tumbuh dewasa kehilangan keistiqomahannya manakala dihadapkan kepada dua pilihan antara pilihan dunia dan akhirat. Maka dari itu hendaklah kita pandai memilih sahabat atau teman dekat. Pilihlah mereka dari golongan orang-orang yang shalih dan baik. Jauhilah mereka yang tidak membawa keuntungan bahkan mencegah atau merusak kita dari mengumpulkan bekal kehidupan di akhirat kelak.

  • Hendaklah kita rajin mendatangi majelis ilmu yang disitu berkumpul manusia-manusia shalih yang insya Allah takut kepada adzab Allah. Bertanyalah kepada ahlinya dalam segala macam perkara agama ini agar tidak menyesatkan. Sebab Allah menjamin orang yang pergi untuk menuntut ilmu dengan surga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga”. (HR. Muslim)

Maka boleh jadi fenomena pagi buta berupa dialog antara sang ibu penjual sayuran dengan anak laki-lakinya yang berusia sekitar 5 tahun itu merupakan upaya sang ibu dalam mentarbiyah si anak untuk lebih mengenal apa arti puasa dan wajibnya puasa bagi seorang muslim yang telah baligh. Semoga ibu muda tadi tetap istiqomah di dalam mendidik anaknya hingga dewasa.

Sedangkan fenomena kedua di siang hari tentang sekelompok anak muda yang tidak berpuasa pada hari dimana semua umat islam diwajibkan berpuasa dan dua orang dari mereka yang mengeluhkan datangnya dan lamanya bulan mulia ini menghampiri mereka adalah bukti sebuah kegagalan dari sikap ketidak istiqomahan yang ditunjukkan oleh orang tua mereka atupun guru-guru mereka. Dan semoga mereka dikembalikan ke jalan yang benar selagi pintu taubat belum tertutup. Sebaliknya bagi kita semoga pelajaran berharga yang saya peroleh ini bisa dijadikan sebagai setetes air dingin di tengah teriknya matahari dan fatamorgana kehidupan dunia yang menipu dan dapat diambil hikmahnya agar kita senantiasa tidak melupakan kewajiban utama kita sebagai orang tua dalam mentarbiyah anak-anak kita untuk sadar dan memahami akan kewajiban sebuah syariat ilahi yang disampaikan melalui kekasih-Nya manusia paling teladan di muka bumi ini Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu Waliyuttaufiq

Comments on: "Dua Sisi Kehidupan Yang Berbeda" (3)

  1. salam kenal tulisannya sangat bermanfaat

    ===
    Syukron akhi…

  2. anies baljun said:

    siip…… siip…… sipp lah
    ok wallah kata2 di atas sangat menyayat hati Q NII

    ===
    Barakallahu fiik,

    semoga kita semua bisa mengambil ibrah dari artikel tsb

  3. AssaLamu’aLAikum Akhi,,,
    SaLam KenaL…

    @ The FiRsT,
    Jika aKHi aDa FS, MoHon di aDD FS saya!!!
    smart.prince7@yahoo.com

    Saat ini saya Haus akan ILmu Agama
    karena saya takut, Lingkungan saya sekarang kurang baik
    saya takut saya terjerumus di dalamnya.
    OLeh karena itu, di aDD ya FS saya!!!

    Sebab dari situ saya bisa minta kiriman
    BuLetin Dakwah daRi aKHi,

    SyukROn VeRy Much BeFore”

    ============
    Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

    salam kenal juga dari ana, afwan sebelumnya ana tidak memiliki FS jadi ana belum bisa add FS antum. Namun ana senang sekali jika antum haus ilmu agama karena dengan ilmu yang benar akan menjadi benteng yang kokoh bagi diri antum dari ketergelinciran di dalam menjalani kehidupan ini. Jika antum ingin mengirim pesan pribadi silahkan japri ke email ana:
    muhammad-haris@cbn.net.id, ana tunggu ya.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: