"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Penulis: Abu Yazid Nurdin

Pernahkah terlintas dalam benak kita pertanyaan, “Mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa dapat diterima oleh semua agama di Indonesia? Padahal semua orang tahu bahwa agama selain Islam di Indonesia mempunyai lebih dari satu tuhan. Keesaan Tuhan yang bagaimanakah yang dimaksud dalam sila tersebut, sehingga tampaknya non-muslim (ahlul kitab atau bukan) menerima dengan ‘lapang dada’? Apakah makna Sila Pertama itu sama dengan Laa ilaaha illalloh, sehingga sebagian dari kita pun serta merta menjadi pendukungnya?!

Rukun Kalimat Laa ilaaha illalloh

Kalimat Laa ilaaha illalloh memiliki dua rukun, sebagaimana sholat, puasa dan haji mempunyai rukunnya masing-masing yang apabila rukun tersebut ditinggalkan maka tidak sah sholat, puasa atau hajinya. Rukun yang pertama adalah nafyi (peniadaan) yaitu penggalan kalimat Laa ilaaha, maksudnya, kalimat tersebut meniadakan hak peribadatan kepada selain Alloh. Rukun yang kedua adalah itsbat (penetapan) yaitu penggalan kalimat illalloh, maksudnya kalimat tersebut menetapkan hak peribadatan hanya milik Allah.

Alloh telah menjelaskan hakikat kedua rukun ini ketika menceritakan perkataan Ibrohim kepada ayah dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Az Zukhruf: 26-27). Penggalan ayat yang pertama, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah” merupakan penjelasan penggalan kalimat Laa ilaaha. Sedangkan penggalan ayat yang kedua, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku” adalah penjelasan penggalan kalimat illalloh.

Jadi, Yang berhak diibadahi hanya Alloh saja. Tuhan-tuhan selain Alloh pada hakikatnya tidak layak dan tidak berhak untuk disembah dan diibadahi. Tetapi mengapa jin dan manusia tetap ada yang beribadah kepada selain Alloh padahal mereka telah mengucapkan kalimat syahadat? Ini menunjukkan kejahilan mereka tentang makna syahadat Laa ilaaha illalloh.

Kesalahpahaman dan Bantahannya

Sebagian orang ada yang memaknai kalimat Laa ilaaha illalloh adalah ”Tidak ada Pencipta kecuali Allah.” Makna ini malah diyakini oleh kebanyakan kaum muslimin di negeri kita, yang non-muslim pun mengakuinya. Kalaulah memang benar demikian maknanya, kesimpulannya kaum musyrikin Quraisy sudah mengucapkan kalimat syahadat. Karena mereka mengakui bahwa pencipta alam semesta, yang mengaturnya, memberi rizki kepada penghuninya, yang menghidupkan dan mematikan adalah Alloh Ta’ala.

Alloh berfirman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk menyerukan kepada orang-orang musyrik, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Alloh.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” (Yunus: 31). Dalam ayat lain Alloh berfirman, “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al Mu’minun: 84-89). Masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan hal ini. Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa pengakuan mereka akan rububiyah Alloh (bahwasanya yang menciptakan, mengatur dan memerintah hanyalah Alloh) tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Buktinya, Rosululloh memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka. Jadi pemaknaan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan “Tidak ada Pencipta selain Alloh” adalah tidak benar. Karena bukan ini yang dimaksud dan diinginkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Sebagian lagi ada yang memaknai kalimat Laa ilaaha illalloh adalah “Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Alloh”. Seandainya makna ini benar, maka artinya semua tuhan yang disembah adalah Alloh?!? Tidak mungkin. Karena Alloh adalah Ahad (Esa). Padahal musyrikin Quraisy dahulu menyembah/beribadah kepada Alloh, Lata, ‘Uzza, Manah dan Hubal, apakah mereka adalah Alloh? Tentu tidak. Kenyataannya orang Nasrani menyembah Bapa, Yesus (nabi Isa) dan Roh Kudus (malaikat Jibril), apakah Isa dan Jibril adalah Alloh? Tentu juga tidak. Kesimpulannya, pemaknaan seperti ini jelas tidak benar.

Makna Laa ilaaha illalloh Sesungguhnya

Yang benar, makna kalimat Laa ilaaha illalloh adalah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh”. Berarti, Tuhan yang berhak diibadahi adalah Alloh. Tuhan-tuhan selain Alloh tidak punya hak untuk disembah/diibadahi, walaupun jin dan manusia menyembahnya. Maka peribadatan kepada Alloh saja itulah yang benar (haq), sedangkan peribadatan kepada selain Alloh itulah yang salah (batil). Makna ini sesuai dengan firman Alloh, “Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alloh, Dialah (Tuhan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka ibadahi selain Alloh, itulah yang batil, dan sesungguhnya Alloh, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj: 62)

Konsekuensinya

Seseorang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh seharusnya memahami maknanya dengan landasan ilmu, meyakini kebenarannya serta mengamalkan konsekuensinya dengan anggota tubuhnya. Sehingga ia tidak membatalkan ucapannya sendiri karena ketidaktahuannya tentang hakikat pengucapan Laa ilaaha illalloh. Dan di antara konsekuensinya adalah apapun bentuk ibadah (seperti nadzar, sembelihan, tawakal, takut, mengharap dan sebagainya) yang kita lakukan harus ditujukan untuk Alloh saja, tidak kepada selain-Nya, entah itu nabi, malaikat, wali, jin, berhala, kuburan, bebatuan, pepohonan maupun yang lain.

Coba direnungkan!

Bukankah kita mengetahui bahwa orang-orang munafik semacam Abdulloh bin Ubay bin Salul juga mengucapkan kalimat syahadat Laa ilaaha illalloh? Ia mengucapkan kalimat syahadat dan juga mengerti maknanya, tetapi hatinya mengingkarinya dan tidak mengamalkan konsekuensinya. Namun di manakah tempat kembalinya orang-orang munafik? Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (An Nisaa’: 145). Lalu bagaimana halnya keadaan kaum muslimin dewasa ini, khususnya di negeri kita, yang mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya, tapi tidak paham maknanya dan mengingkari kebenarannya serta tidak mengamalkan konsekuensinya, bukankah ini lebih parah dari orang-orang munafik? Mengapa sedikit sekali yang mengambil pelajaran? Wallohu a’lam.

Sumber:

http://muslim.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: