"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)

Ilmu Nahwu

oleh: Abu Fatih Asy Syirbuni 

Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari sintaksis kata (tata bahasa) dalam bahasa arab. Untuk mengetahui hukum akhir (tanda) suatu kata maka ilmu nahwu bidangnya. Misalkan dalam menentukan apakah suatu kata di dalam kalimat tersebut harus berharokat fathah, kasroh, dhomah, sukun dll. Di dalam ilmu nahwu ada yang disebut dengan Kalam yaitu kata. Kata dalam bahasa arab terdiri dari tiga:

  1. Isim (kata benda)

  2. Fi’il (kata kerja)

  3. Hurf (huruf)

Definisi Isim (kata benda) yang umum adalah setiap lafazh yang dengan lafazh tersebut menunjukkan sesuatu yang dinamakan orang (انسان), hewan (حيوان ), tumbuhan (نبات ) dan benda mati  (جماد) atau sesuatu yang lain dari semuanya.

Definisi Fi’il (kata kerja) adalah setiap lafazh yang menunjukkan atas terjadinya suatu perbuatan pada waktu lampau, sekarang dan yang akan datang.

Definisi Hurf (huruf) adalah setiap lafazh yang tidak tampak memiliki makna yang sempurna kecuali dengan sesuatu yang menyertainya.

Selain itu di dalam ilmu nahwu dikenal juga adanya jumlah mufidah(kalimat sempurna). Bukan jumlah dalam perhitungan matematika lho..ya. Nah justeru inilah yang jadi tujuan para pecinta bahasa arab. Bagaimana sih membuat suatu kalimat dan memperaktekannya baik dalam berbicara atau menulis maupun membaca. Sebelum membahas lebih jauh bagaimana menyusun kata sehingga menjadi sebuah kalimat. Maka yang harus diketahui terlebih dahulu adalah apa sih jumlah mufidah(kalimat sempurna) itu.

Definisi jumlah mufidah (kalimat) adalah struktur kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang memberikan suatu faidah (pemahaman) yang sempurna. Jika tidak memberikan pemahaman yang sempurna maka bukanlah sebagai jumlah mufidah.

Contoh jumlah mufidah:

ان تجتهذ تنجح – Jika kamu bersungguh-sungguh kamu akan berhasil

Ketika kita berbicara dengan kalimat seperti di atas maka lawan bicara kita akan memahami maksud kalimat yang kita ucapkan. Maka inilah kalimat sempurna.

Akan tetapi manakala kalimat itu berubah menjadi

ان تجتهذ – Jika kamu bersungguh-sungguh…

Maka kalimat tersebut bukan kalimat sempurna. Karena tidak terpenuhinya pemahaman yang utuh. Jika kita mengatakan kalimat seperti ini kepada seseorang yang kita ajak bicara. Maka lawan bicara kita tidak memahami maksudnya. Ia akan bertanya: “kenapa kalau saya bersungguh-sungguh..?”, disini ia meminta jawaban atau kelanjutan dari kalimat yang kita ucapkan.  Mengerti kan sampai disini… ditunggu lanjutannya yah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: